| ]



Karir artis penyanyi Titiek Puspa seolah tiada henti. Nenek awet muda ini seorang pencipta lagu yang bercerita tentang manusia. Cerita yang didasari oleh rasa empati dan simpati yang sangat dalam kepada setiap manusia yang terpojok. Beragam tema kehidupan yang lekat dengannya diterjemahkan menjadi lagu. Seperti kematian ayah dan ibunya, dan kisah perjalanan hidup lainnya. Ia terinspirasi mencipta lagu hampir setiap hari, sekalipun kaki sudah naik ke tempat tidur. Sebab seringkali terjadi, di kepalanya tiba-tiba muncul notasi-notasi lagu seperti sedang berjalan-jalan. Itu, alamat Titiek harus segera melanjutkan dengan menyanyi perlahan tak terlalu serius mengikuti not. Kemudian, notasi itu diorat-oret di atas kertas untuk menjadi sebuah lagu terkenal, atau tetap hanya onggokan kertas lusuh.

Itulah Titiek Puspa, entertainer sejati alias artis penyanyi serba bisa yang sejak memulai kiprah di dunia tarik suara hingga hari senjanya tetap memiliki reputasi membanggakan. Sudah lima puluh tahun lebih nenek 14 orang cucu ini berkarya namun seolah baru saja mulai dilakoni wanita kelahiran Tanjung, Kalimantan Selatan, 1 November 1937, ini. Mencipta lagu bagi Titiek bisa dimana saja dan kapan saja asal bukan di keramaian dan tidak sedang mengobrol. Sepanjang hayatnya, ia merasakan hidup itu indah, menyenangkan, dan mengesankan. Titiek sepertinya hidup terlelap dalam keasyikan keseharaian yang terkadang harus diisinya sibuk di tiga atau empat acara dan tempat berbeda, seperti mengadakan rapat atau shooting. Titiek Puspa adalah komponis wanita dengan ratusan karya cipta, tergolong terbanyak dibanding wanita komponis lain.

Oleh para penyanyi juniornya kepada Titiek dipersiapkan sebuah album berisi 12 lagu karya cipta Titiek, yang dinyanyikan dan diaransemen ulang oleh 12 musikus muda berbakat Indonesia. Judulnya Tribute to Titiek Puspa, dimaksudkan sebagai persembahan kepada senior bernama Titiek Puspa. Titiek Puspa memang layak dihargai demikian, bahkan mungkin harus lebih dari itu karena dedikasi dan reputasi Titiek pada pengebangan musik sepanjang hayat.

Awalnya ‘nembang’
Titiek Puspa ketika kecil saat masih bernama Soemarti, berdua bersama seorang dari 11 saudara kandung lainnya, suka sekali bernyanyi. Mereka sering nembang musik kesenian tradisional Jawa. Ketika duduk di bangku SMP tahun 1954, Titiek, putri pasangan ayah Tugeno Puspowidjojo seorang mantri kesehatan, dan ibu Siti Mariam, mengikuti perlombaan menyanyi. Ia mendaftar diam-diam sebab takut dimarahi ayah sebab Tugeno Puspowidjojo menganggap menyanyi seperti ‘tukang nembang’.

Titiek kukuh maju ke festival mengikuti saran dan dorongan teman-teman. Titiek atau Soemarti disarankan mendaftar dengan mengubah nama menjadi Titiek Puspo, diambil dari nama panggilannya Titiek dan Puspo dari nama ayahnya, sebagai siasat agar tidak ketahuan ayahnya. Soemarti setuju lalu mengindonesiakan nama Puspo menjadi Puspa. Maka, lengkaplah nama baru Titiek Puspa sebuah nama beken yang di kemudian hari melegenda dalam jagat dunia musik pop Indonesia. Walau menghadapi saingan, kebanyakan murid SMA, Titiek yang masih duduk di bangku SMP berhasil keluar sebagai juara pertama.

Tahun 1954 Titiek kembali mengikuti lomba dan tampil sebagai juara kedua Bintang Radio RRI Semarang, jenis hiburan tingkat Jawa Tengah. Ia bangga sebab walau hanya juara dua, namun dengan meraih nilai tinggi Titiek berkesempatan tampil beradu kemampuan di tingkat nasional. Pada malam pemberian hadiah, berlangsung di Stadion Ikada, Gambir, Jakarta, tahun 1954, saat tampil di panggung Titiek didaulat oleh Sjaiful Bachri, pimpinan Orkes Simphony Djakarta menyanyikan lagi Chandra Buana, karya pahlawan nasional Ismail Marzuki. Sebuah kebanggaan tersendiri mengingat biasanya hanya juara I yang boleh tampil pada ‘Malam Gembira’ seperti itu. Peristiwa ini sangat berpengaruh membentuk kepercayaan diri Titiek Puspa.

Keyakinan ‘Soemarti’ atau Titiek Puspa menjadi penyanyi, yang kemudian sejak tahun 1960 tercatat sebagai salah satu artis penyanyi pada Orkes Simphony Djakarta pimpinan Sjaiful Bachri, semakin tebal. Terlebih sang ayah Tugeno Puspowidjojo, sesaat sebelum meninggal dunia dalam pelukan Titiek memanfaatkan waktu terakhir menyampaikan permintaan maaf atas sikap menentang Titiek terjun dalam dunia tarik suara.

Di tahun 1955 untuk pertamakali Titiek melakukan rekaman di Semarang, Jawa Tengah, di perusahaan rekaman negara Lokananta. Setahun kemudian Titiek kembali masuk dapur rekaman di perusahaan rekaman Irama, dengan satu lagu Melayu. Berselang beberapa tahun kemudian, tahun 1959, Titiek melakukan rekaman yang ketiga. Rekaman kedua dan ketiga dilakukan di Jakarta bersamaan dengan kegiatan Titiek mengikuti festival Bintang Radio, sebuah obsesi kuat dan sudah berkali-kali dicoba namun sayang kemenangan selalu gagal diraih. Pada masa itu menjadi juara Bintang Radio adalah impian setiap artis pendatang baru sebab gaungnya sangat berpengaruh dalam dunia musik, sebagai batu loncatan untuk dikenal masyarakat luas.

‘Gagal’ membangun jalur keartisan lewat Bintang Radio, Titiek banting setir manggung dari satu panggung ke panggung lain, mengasah diri menjadi entertainer komplit. Ia mengisi panggung hiburan bersama beberapa grup musik seperti White Satin, Zaenal Combo, atau Gumarang. Dunia musik hiburan mengalami efek bola salju berkat kemahiran bernyanyi wanita Jawa kelahiran Tanjung, Kalimantan Selatan, ini.

Bercerita manusia
Selain penyanyi Titiek Puspa juga pencipta lagu ternama. Talenta ini muncul terdorong oleh dukungan Mus Mualim, pianis yang sejak tahun 1970 resmi menjadi suami kedua Titiek. Dalam hal komposisi musik Titiek mengaku hanya tahu do-re-mi, karenanya Mus Mualim dijadikannya ‘ayahnya’ dalam musik dan sebagai ‘kakek’ komponis Iskandar. Kepada keduanya Titiek sering berkonsultasi. Usai mengarang lagu Titiek biasanya meminta Mus Mualim menilai atau mengaransemen lagu-lagu yang baru saja ditulisnya.

Delapan lagu pertama sudah digubah Titiek namun Mus Mualim tetap tak berkomentar banyak, alias menolak halus. Hingga pada lagu ke-9, Mus Mualim mulai memberi komentar yang lebih baik, namun singkat saja, lumayan. Barulah pada tahun 1963 Titiek berhasil mengubah lagu Kisah Hidup sebagai karya cipta pertama. Lagu itu ditulis dengan not angka saja tanpa birama maupun tanda-tanda baca musik apapun.

Tahun 1964 muncul lagu kedua, Mama, dari seorang pencipta lagu otodidak. Lagu ini mulai melambungkan nama Titiek. Lagu lain kemudian bermunculan. Sejumlah nama penyanyi berhasil terangkat ke permukaan menjadi artis penyanyi terkenal setelah membawakan lagu karya Titiek. Seperti, Lilies Suryani yang membawakan lagu Gang Kelinci, Eddy Silitonga (Romo Ono Maling, Rindu Setengah Mati), Acil Bimbo (Adinda), serta Euis Darliah (Apanya Dong). Euis Darliah juga membawakan lagu Horas Kasih, yang pada The World Song Festival in America di Los Angeles, tahun 1984, berhasil memenangkan penghargaan Bronze Prize. Padahal Titiek dengan merendah menyebutkan, lagu itu gampangan saja, hura-hura, tak ada hebatnya.

Titiek adalah pencipta lagu yang bercerita tentang manusia lewat lagu. Cerita yang didasari oleh rasa empati dan simpati yang sangat dalam kepada setiap manusia yang terpojok. Beragam tema kehidupan yang lekat dengannya diterjemahkan menjadi lagu. Seperti kematian ayah dan ibunya, dan kisah perjalanan hidup lainnya. Sebagian kejadian penting lain berlalu begitu saja tak menyisakan lagu sebagai bekas. Seperti, ketika tahun 1970 ia bercerai dari suami pertamanya, untuk lalu mengasuh kedua putrinya Petty dan Ella. Atau, kisah ketika Titiek menikah dengan Mus Mualim tahun 1970, hingga Mus meninggal dunia 1 Januari 1990.

Dari kedua anaknya, Petty dan Ella, serta dari anak Mus Mualim, Titiek yang masih kelihatan segar dan cantik dikaruniai 14 orang cucu. Salah satu resep awet muda, kata Titiek, ia suka bicara ceplas-ceplos sebab basa-basi menurutnya justru membuat orang lekas tua. Bahkan, di usia senjanya Titiek menyebutkan masih merasakan ada feeling terhadap pria ganteng, dan itu berhasil dibungkusnya dengan rapih.

Titiek biasa bercerita dalam lagu tentang kehidupan cinta manusia (dalam lagu Cinta dan Jatuh Cinta), persahabatan (Bing), empati kepada kaum pinggiran seperti pekerja seks komersial (Kupu-kupu Malam), rasa kekaguman kepada sosok pribadi seorang tokoh (Soeharto Bapak Pembangunan), hingga ke sikap patriotik bela negara (Pantang Mundur dan Ayah). Corak lagunya tersedia mulai dari yang lembut dan syahdu (Adinda), hingga yang menghentak-hentak (Marilah ke Mari dan Apanya Dong).

Lagu Bing (tercipta tahun 1973), berkisah tentang kedekatan hati dan persahabatannya dengan Bing Slamet. Artis komedi dan penyanyi serba bisa yang sudah menjadi pujaan hatinya sejak lama tiba-tiba dikabarkan meninggal dunia. Berita kematian Bing sampai ke telinga Titiek seperti petir menggelegar di siang hari. Sayang Titiek tak bisa menghadiri pemakaman sahabat yang memikat hatinya sebab harus mengadakan pertunjukan ke Singkep, Riau. Jadilah lagu Bing tercipta di dalam pesawat dalam waktu setengah jam namun sudah dengan mata basah penuh linangan air mata. Lagu itu didedikasikan Titiek kepada sahabat yang sudah diidolakannya saat memenangkan juara dua lomba menyanyi RRI Semarang, tahun 1954. Ceritanya, ketika berlangsung penyerahan hadiah, pembawa acara bertanya pada Titiek apa cita-citanya, dijawab sekenanya, ingin berkenalan dengan Bing Slamet. Bing adalah teman, sahabat, dan guru entertainer yang serba bisa bagi Titiek.

Potret keartisan Titiek bukan hanya menghiasi pentas musik. Sebagai selebriti terkenal nama Titiek laku membintangi film layar lebar dan, belakangan ikut pula membintangi film sinetron di layar kaca walau dianggapnya sebagai obat kangen saja. Tahun 1965 Titiek sudah main film Minah Gadis Dusun, judul yang diambil dari lagu ciptaan Titiek. Kemudian, membintangi film Di Balik Cahaya Gemerlapan dan Inem Pelayan Seksi (1976), Karminem (1977), Rojali dan Juleha (1980), Gadis (1981, Titiek sekaligus penulis cerita), dan Koboi Sutra Ungu (1982).

Membela yang lemah
Banyak kejadian aneh pernah menimpa diri Titiek. Seperti, selama dua tahun kehilangan suara, konon itu karena ‘dikerjai’ orang. Suara Titiek baru berhasil disembuhkan setelah ditangani oleh Romo Lukman, dari Purworejo. Dari peristiwa ini terciptalah lagu Apanya Dong (1982), dipopulerkan Euis Darliah. Hasil lagu, kata Titiek, lumayan untuk membawa suami berobat ke Jepang. Namun setahun kemudian (1983), rumahnya di kawasan Menteng, Jalan Sukabumi, Jakarta Pusat terbakar menghanguskan semua dokumen miliknya.

Sejak awal kebangkitannya sebagai penyanyi dan pencipta lagu, berbagai peristiwa sesungguhnya sudah akrab membelit kehidupan Titiek. Lagu karya keduanya, Mama (1964), tercipta bersamaan meninggalnya ibu Titiek dan pers sedang memusuhinya pula gara-gara salah paham. Titiek ketika itu juga diliputi berbagai gosip, kasus perceraian, dan perjuangan hidup berat membesarkan kedua putrinya, Petty dan Ella.

Suatu ketika Petty, putri sulungnya mengalami panas dan demam tinggi. Dua hari sudah tidak makan, lalu meminta kepada Titiek agar dibelikan mie yang sedang lewat di depan rumah. Titiek yang sedang tak memiliki uang membujuk, berkata, di rumah hanya ada sop dan nasi, jika mau makan itu berarti Petty sudah menyelamatkan seisi rumah. Bujukan berhasil seisi rumah selamat dari kelaparan dan Petty sembuh. Setelah menikah dengan Mus Mualim, tahun 1970, Titiek mulai dapat merasakan ada ketenteraman yang memayungi kehidupannya, hingga Mus meninggal dunia 1 Januari 1990.

Pada setiap lagu Titiek bercerita tentang manusia. Itu, didasari oleh rasa empati dan simpati yang dalam terhadap berbagai sisi kehidupan manusia karena memang demikianlah naluri keseharian Titiek. Naluri yang lahir sebagai hasil akhir pergulatan berbagai gelombang kehidupan yang digumuli. Pembelaan Titiek selalu di pihak yang lemah, tanpa ada sedikitpun bobot kepentingan pribadi di dalamnya. Tak heran jika Titiek tampil membela Inul Daratista pada saat kebanyakan orang justru sedang menista Inul, karena goyang ngebornya. Titiek menegaskan, yang dibelanya adalah posisi keterpojokon Inul. Titiek pun pernah menyelamatkan seorang anak yang dituduh mencuri tempe yang sedang digoreng kakaknya.

Atau, ketika maling masuk ke rumah dan saudara-saudaranya sudah siap menangkap, naluri Titiek justru ingin menyelamatkan ‘si maling’. Dalam pengejaran Titiek memerintahkan ‘si maling’ belok ke kiri, namun kepada saudaranya dikatakannya maling sudah berbelok ke kanan. Demikian pula, seorang pekerja seks komersial datang ke Titiek saat sedang show di luar kota. Si ‘kupu-kupu malam’ menghampiri Titiek, di kamar, dan mencurahkan segala kepedihan hati. Titiek membela bahkan dibuatkan lagu dengan judul sama, ‘Kupu-kupu Malam’, dan menjadi hit di pasaran.

Pimpin Papiko
Titiek Puspa adalah artis penyanyi, pencipta lagu, bintang film, dan koreografer seni yang menjadi simbol awal bermulanya peri kehidupan kerlap-kerlip artis selebriti Indonesia. Titiek dahulu sering memposekan diri lewat saluran tunggal TVRI, menyuguhkan hiburan operet ‘Ketupat Lebaran’. Acara itu rutin setiap tiba hari raya Lebaran, demikian pula pada tahun baru muncul operet lain disuguhkan oleh Paguyuban Artis Penyanyi Ibukota (Papiko) pimpinan Titiek. Kedua hiburan bermutu itu pada masanya sangat ditunggu-tunggu pemirsa, layaknya oase hiburan di tengah kelangkaan tayangan siaran tv.

Papiko pada masanya sangat ampuh mengorbitkan artis-artis penyanyi pendatang baru. Bahkan, di zaman Orde Baru Papiko selalu digandeng organisasi massa sosial politik peserta pemilu Golongan Karya (Golkar), untuk menghibur masyarakat setiap kali musim Pemilihan Umum tiba. Titiek Puspa mempunyai keberuntungan lain selalu bisa dekat dengan penguasa. Di situ ia ‘menjual’ profesionalisme semata tanpa ada interes pribadi.

Di usia senja nan penuh energi dan vitalitas Titiek peraih penghargaan Pengabdian Panjang di Dunia Musik pada acara BASF Award ke-10 tahun 1994 lewat lagu Virus Cinta, masih dipercaya Ditjen Pajak Depkeu berkampanye tentang pentingnya kesadaran masyarakat membayar pajak. Ketika sudah muncul banyak penyanyi dan pencipta lagu muda berbakat, yang sudah teruji, Titiek masih memperoleh kepercayaan menciptakan lagu mars dan himne berbagai lembaga pemerintah. Titiek merelakan diri membuatkan lagu mars dan himne tanpa dibayar, namun itu semua dikerjakannya dengan senang hati.

Titiek sepertinya tidak pernah dan tak akan kehabisan gawean. Kabar tentangnya bisa saja tiba-tiba muncul, ia sudah menjadi juri berbagai ajang lomba dan festival, atau terjun ke Bundaran Hotel Indonesia berkampanye penanggulangan AIDS. Atau, seperti biasa saban hari usai menaruh kakinya di atas tempat tidur, tiba-tiba muncul keinginan menulis lagu. Lagu tentang apa saja sepanjang bercerita tentang cinta manusia dan kemanusiaan, koridor pokok tema lagu ciptaan Titiek. Koridor yang muncul karena Tuhan telah memberikan cinta kepada manusia walau, apa yang dilihat dan didengar oleh Titiek, justru keadaan yang semakin diliputi iri dan penuh kekerasan serta kesenangan manusia mencari kekurangan orang. ►e-ti/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Titiek Puspa
Nama Kecil:
Soedarwati, Kadarwati, dan Soemarti
Lahir:
Tanjung, Kalimantan Selatan, 1 November 1937
Agama:
Islam
Suami:
Mus Mualim
Anak:
Petty dan Ella
Cucu:
14 orang
Ayah:
Tugeno Puspowidjojo
Ibu:
Siti Mariam
Saudara:
-12 Orang

Pendidikan:
-SD
-SMP
-Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak

Profesi:
Penyanyi, pencipta lagu, koreografer seni, bintang iklan, dan bintang film.

Rekaman:
-Pertama tahun 1955, di Semarang, Jawa Tengah, di Lokananta
-Kedua tahun 1956, di Jakarta, di Irama
-Ketiga tahun 1959, di Jakarta, di Irama

Organisasi Profesi:
-Orkes Simphony Djakarta (OSD), pimpinan Sjaiful Bachri, sebagai anggota
-Paguyuban Artis Pop Ibukota (Papiko), sebagai pimpinan

Grup Musik:
-White Satin
-Zaenal Combo
-Gumarang

Karya Cipta Musik:
-Pertama, Kisah Hidup (1963)
-Kedua, Mama (1964)

Hit lagu terkenal:
-Kisah Hidup (1963)
-Mama (1964)
-Minah Gadis Dusun (1965)
-Gang Kelinci
-Romo Ono Maling
-Rindu Setengah Mati
-Adinda
-Cinta
-Jatuh Cinta
-Bing (1973)
-Kupu-kupu Malam
-Pantang Mundur
-Ayah
-Adinda
-Marilah ke Mari
-Buruk Kakaktua
-Bapak Pembangunan
-Apanya Dong (1982)
-Horas Kasih (1983)
-Virus Cinta (1994)

Film yang dibintangi:
-Minah Gadis Dusun (1965),
-Di Balik Cahaya Gemerlapan, (1976)
-Inem Pelayan Sexy (1976),
-Karminem (1977),
-Rojali dan Juhela (1980)
-Gadis (1981)
-Koboi Sutra Ungu (1982)

Penghargaan :
-1954: Juara II Bintang Radio Jenis Hiburan tingkat Jawa Tengah, RRI Semarang
-1984: Penghargaan Bronze Prize lewat lagu Horas Kasih pada The World Song Festival in America di Los Angeles, tahun 1984
-1994: Penghargaan untuk untuk kategori “Pengabdian Panjang di Dunia Musik” pada BASF Award ke-10 tahun 1994

Alamat Rumah:
Jalan Sukabumi 23, Menteng, Jakarta Pusat