| ]





[ Jum'at, 10 Oktober 2008 ]
Tri Setyo Budiman, sang Miliarder dari Warung Bakso
Dulu Dorong Gerobak, Kini Omzet Rp 22 Miliar Per Bulan

Tidak perlu modal besar atau produk mewah untuk menjadi miliarder. Tri Setyo Budiman, alumnus Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil memperoleh miliaran rupiah per bulan dari usaha warung bakso.

IBNU YUNIANTO, Jakarta

SOSOKNYA tinggi besar. Suaranya juga besar dan berwibawa, kontras dengan penampilannya yang sederhana. Ketika menemui Jawa Pos di salah satu kedai baksonya, Tri Setyo Budiman hanya mengenakan kaus polo dan celana pendek.

Tidak disangka, pria yang menikmati masa remaja di Batu, Jawa Timur, itu sukses mengeruk fulus dari bisnis yang kerap dipandang sebelah mata: warung bakso. "Bakso memang kadang dilihat sebelah mata, berbeda ketika kita bicara steak atau pizza. Mungkin karena citra warung bakso itu kumuh dan sempit," katanya.

Begitu pula keputusannya yang tidak populer 15 tahun lalu saat terjun sebagai wirausahawan. Padahal, sebagai manajer pemasaran nasional William Russel Grace Company, sebuah perusahaan kemasan makanan asal Amerika Serikat, saat itu dia menikmati gaji Rp 7,5 juta per bulan plus tunjangan rumah dan sebuah mobil dinas.

"Saya merasa potensi dan kemampuan saya tujuh. Tapi, hanya dihargai dua oleh perusahaan. Karena itu, dalam usia 32 tahun, saya ambil pensiun diri, bikin perusahaan sendiri," ujar pria kelahiran Sumenep, Madura, 24 Juli 1961, itu.

Bisnis kuliner dipilih lantaran tak pernah mati. Selama orang masih butuh makan, bisnis rumah makan tetap hidup. Bakso lantas dipilihnya karena bisa dimakan siang maupun malam, seperti juga masakan padang. Apalagi, selama ini bisnis itu menghidupi puluhan juta orang.

"Masalahnya, saya tidak bisa bikin bakso. Karena itu, saya pulang ke Batu, beli resep bakso dan kuah dari salah satu kedai bakso yang terkenal di sana," katanya.

Dengan modal dari sebagian uang pensiun, Tri membuat gerobak bakso. Nahas, karena tidak berpengalaman mengoperasikan, gerobaknya terbakar. Tungku api di bawah ketelnya terlalu dekat dengan dinding gerobak. "Begitu dinyalakan, langsung terbakar, habis," katanya terkekeh.

Tak menyerah, dia membuat satu gerobak lagi. Gerobak itu yang lantas didorong keliling kampung di sekitar rumahnya di Jalan Empang Tiga, Kalibata, Jakarta Selatan. Uniknya, Tri memilih trik promosi yang tidak biasa. Dia berkeliling kampung untuk membagikan seluruh bakso yang dimasaknya hari itu.

"Akhirnya orang sekampung tahu saya jualan bakso, dan baksonya enak. Prinsip saya, sebelum kita kuasai kampung orang, kita kuasai dulu kampung kita," terangnya.

Strategi itu efektif. Tak lama berkeliling, Tri lantas membuka kedai bakso di garasi rumah. Kedai yang diberi nama Ino (nama panggilan anaknya, Platinum) itu pun laris. Dalam waktu tak terlalu lama dia bisa membuka cabang di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Timur. "Begitu satu cabang bisa hidup, cash flow-nya bagus, saya langsung buka di tempat lain. Begitu terus sampai saya masuk ke rest area di jalan tol, mal, dan stand alone (kedai bakso untuk pasar premium)," katanya.

Jumlah cabang yang terus berkembang menimbulkan masalah, terutama pada keseragaman kualitas dan rasa baksonya. Pasalnya, membuat bakso dari 300 kilogram daging tidak semudah ketika hanya membuat bakso dari sekilogram daging. Bila kondisi itu dibiarkan, 200 ribu butir bakso yang dibuatnya setiap hari terancam tidak sama rasanya di tiap kedai.

"Kadang koki arogan, rasa bakso harus seperti keinginannya. Padahal, tidak bisa seperti itu, karena saya bikin bakso itu pakai penelitian. Berapa porsi dagingnya, berapa tepungnya, bagaimana masaknya, berapa lama supaya kenyal. Itu semua pakai penelitian," katanya.

Karena itu, Tri lantas membuat dapur khusus pembuatan bakso dan bumbu masak di rumahnya. Bakso dan bumbu yang sudah setengah jadi didistribusikan ke seluruh cabang, termasuk ke Mal Nagoya di Batam. "Saya buat penelitian lagi. Bumbunya saya bikin jadi pasta dan powder (bubuk). Takarannya juga diseragamkan. Jadi, koki tidak bisa lagi memelintir rasa," katanya.

Dari dapur itu Tri lantas berkreasi membuat item-item masakan lain. Mulai bakso urat, bakso daging sapi, bakso gepeng, hingga bakso campur. Belakangan, sejumlah masakan lain juga dipasarkan di kedainya, mulai gado-gado, soto betawi, sop iga, rawon, nasi goreng seafood, kwetiaw, cap cay, dan fuyunghai.

Dia juga berkreasi membuat masakan western, seperti spaghetti bolognaise, chicken wing, dan french fries. "Total ada 40 masakan yang bumbunya dibuat secara seragam di dapur sentral. Semua kedai harus patuh hanya berjualan yang ada di menu list saya. Jangan sampai ada yang jual kupat sayur misalnya," katanya.

Perlakuan yang sama harus diberikan karena tidak semua kedai dimiliki secara penuh. Sebagian kedai didirikan dengan modal teman-temannya. Ini dilakukan karena pembuatan satu kedai tidak murah. Nilainya bervariasi, antara Rp 400 juta seperti kedai di Cijantung dan Kalibata, Rp 800 juta seperti di Rest Area Km 19 Tol Cipularang, hingga Rp 1,2 miliar seperti di kedai Tebet. "Semua bisa balik modal 2-3 tahun," katanya.

Hingga kini gerai di Rest Area Km 19 paling ramai dan memberi kontribusi terbesar bagi total omzet bakso Ino. Setiap bulan rata-rata 15 ribu pengunjung menikmati bakso di sana. Setiap pengunjung rata-rata membelanjakan Rp 25 ribu.

"Setiap gerai rata-rata mendapatkan Rp 50 juta per hari atau sekitar Rp 1,5 miliar per bulan," ungkapnya. Dengan kata lain, bila dikalikan dengan 15 kedai yang dimiliki, Tri Setyo Budiman bisa memperoleh penghasilan rata-rata Rp 22,5 miliar per bulan.

Salah satu kiat suksesnya adalah pemilihan lokasi. Tri mengaku biasa menongkrongi calon lokasi kedai berhari-hari sebelum memutuskan mendirikannya di sana. "Kalau kita pakai prinsip lima P dalam marketing, di bisnis kuliner itu tiga P pertama place (lokasi), baru product (produk) dan price (harga)," akunya.

Bukan berarti Tri tak sempat bangkrut. Dua kedainya di Cikeas dan Bendungan Hilir bangkrut tak sampai setahun setelah didirikan. Bukan karena mismanajemen, melainkan faktor eksternal. Kenaikan harga BBM membuat kawasan industri di Cikeas bangkrut. Otomatis kedai bakso Ino terkena imbasnya.

"Ada pula kedai bakso di sebuah rumah sakit di Benhil yang tutup karena orang enggan makan di rumah sakit yang dianggap sumber penyakit. Padahal, di kedua tempat itu traffic-nya ramai," katanya.

Tri menegaskan, bila seseorang memutuskan terjun sebagai wirausaha, salah satu syarat untuk survive adalah kesabaran. "Tidak ada sukses yang instan di bisnis. Perlakukan bisnis seperti bayi setiap hari, sehingga sukses hari ini hanya journey (perjalanan), bukan destination (tujuan)," papar alumnus SMAN 3 Malang itu.

Meski kedai baksonya maju luar biasa, Tri mengaku tak berniat mewaralabakan bisnisnya. Dia menilai waralaba akan berdampak buruk dalam jangka panjang, terutama dari segi kualitas produk. Hingga kini Tri juga mengaku kerap menahan dongkol karena satu lokasi yang sudah diincar justru diberikan kepada waralaba asing, seperti kedai kopi Starbucks atau Dunkin Donuts.

Pemilik gedung, kata dia, melihat keberadaan mereka sebagai prestise. Jadi, tanpa diminta mereka menyediakan space yang paling strategis. Kalau perlu, sewanya murah. "Kita yang mau bayar sesuai tarif justru ditolak-tolak. Jadi, kalau Starbucks ramai itu bukan hal yang aneh. Anak kecil juga bisa," kata ketua DPP Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso (Apmiso) ini geram. (el)