| ]

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Dahlan Iskan : Tionghoa, Dulu dan Sekarang (1)
Hollands Spreken, Peranakan, dan Totok

Waktu itu belum ada negara yang disebut Indonesia, atau Malaysia, atau Singapura. Tiga negara itu masih jadi satu kesatuan wilayah ekonomi dan budaya. Kalau ada orang dari Tiongkok yang mau merantau ke wilayah itu, apa istilahnya? Tentu tidak ada istilah "mau pergi ke Indonesia". Atau "mau pergi ke Malaysia". Mereka menyebutkan dengan satu istilah dalam bahasa Mandarin: xia nan yang. Artinya, kurang lebih, turun ke laut selatan.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Wilayah yang disebut "nan yang" itu bukan satu kesatuan dan bukan pula satu tempat tertentu. Kalau ditanya xia nan yang-nya ke mana? Barulah ditunjuk satu nama tempat yang lebih spesifik. Misalnya, akan ke Ji Gang (maksudnya Palembang). Mereka tidak tahu nama Palembang, tapi nama Ji Gang terkenalnya bukan main. Maklum, Ji Gang adalah salah kota terpenting yang harus didatangi misi Laksamana Cheng He (Cheng Ho). Ji Gang (artinya pelabuhan besar) memang jadi tempat tujuan utama siapa pun yang xia nan yang.

Kalau tidak ke Ji Gang, mereka memilih ke San Bao Long. Maksudnya: Semarang. Atau ke San Guo Yang, maksudnya Singkawang. Atau ke Ye Chen, maksudnya Jakarta. Atau Wan Long, maksudnya, Bandung. Mereka tidak tahu nama-nama kota di wilayah nan yang seperti nama yang dikenal sekarang. Semua kota dan tempat yang mereka tuju bernama Mandarin.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Gelombang xia nan yang itu sudah terjadi entah berapa ratus tahun lalu, bahkan ribu tahun lalu. Bahkan, saya tidak tahu mana nama yang digunakan lebih dulu: Palembang atau Ji Gang. Pontianak atau Kun Tian. Surabaya atau Si Shui. Banjarmasin atau Ma Chen. Migrasi itu berlangsung terus, sehingga ada orang Tionghoa yang sudah ratusan tahun di wilayah nan yang, ada juga yang baru puluhan tahun. Waktu kedatangan mereka yang tidak sama itulah salah satu yang membedakan antara satu orang Tionghoa dan Tionghoa lainnya.

Maka, masyarakat Tionghoa di Indonesia pernah terbagi dalam tiga golongan besar: totok, peranakan, dan hollands spreken. Yang tergolong totok adalah mereka yang baru satu turunan di Indonesia (orang tuanya masih lahir di Tiongkok) atau dia sendiri masih lahir di sana. Lalu ketika masih bayi diajak xia nan yang. Yang disebut peranakan adalah yang sudah beberapa keturunan lahir di tanah yang kini bernama Indonesia. Sedangkan yang hollands spreken adalah yang -di mana pun lahirnya- menggunakan bahasa Belanda, mengenakan jas dan dasi, kalau makan pakai sendok dan garpu, dan ketika Imlek tidak mau menghias rumah dengan pernik-pernik yang biasa dipergunakan oleh peranakan maupun totok..

Yang peranakan umumnya bekerja di sektor pertanian, perkebunan, dan perdagangan. Mereka berbahasa Jawa, Minang, Sunda, Bugis, dan bahasa di mana mereka tinggal. Mereka menyekolahkan anaknya juga tidak harus di sekolah Tionghoa.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Saya pernah menghadiri peringatan 50 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) Bandung di Hongkong yang diselenggarakan masyarakat Hongkong kelahiran Bandung. Meski sudah puluhan tahun bukan lagi WNI, tapi di pertemuan itu hampir semua bicara dalam bahasa Sunda.

Yang hollands spreken umumnya menjadi direktur dan manajer perusahaan besar yang waktu itu semuanya memang milik Belanda. Atau jadi pengacara, notaris, akuntan, dan profesi sejenis itu yang umumnya memang memerlukan keterampilan bahasa Belanda. Ini karena mereka harus melayani keperluan dalam sistem hukum yang berbahasa Belanda dengan aparatur yang juga orang Belanda.

Sedang yang totok, umumnya menjadi penjual jasa dan pedagang kelontong. Lalu jadi pemilik bengkel kecil. Lama-kelamaan mereka inilah yang memiliki pabrik-pabrik.

Karena kesulitan berbahasa (Belanda, Indonesia, maupun bahasa daerah) golongan totok menjadi "tersingkir" dari pergaulan formal yang umumnya menggunakan tiga bahasa itu.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Sebagai golongan yang terpinggirkan, orang totok harus bekerja amat keras untuk bisa bertahan hidup. Pada mulanya mereka tidak bisa bekerja di pabrik karena tidak "nyambung" dengan bahasa di pabrik. Mereka juga tidak bisa bertani karena untuk bertani memerlukan hak atas tanah. Mereka hanya bisa berdagang kelontong dari satu kampung ke kampung lain dan dari satu gang ke gang yang lain. Kalau toh mencari uang dari pabrik, bukan secara langsung namun hanya bisa berjualan di luar pagarnya: menunggu karyawan pabrik bubaran kerja.

Golongan peranakan lebih kaya, tapi status sosialnya masih kelas dua. Status sosial tertinggi adalah golongan hollands spreken. Sedangkan status sosial terendah adalah totok. Anak-anak golongan hollands spreken umumnya harus kawin dengan yang hollands spreken. Yang peranakan dengan peranakan. Demikian pula yang totok dengan totok. "Kalau kamu kawin sama anak totok, nanti kamu makan pakai sumpit," kata-kata orang tua si hollands spreken. "Kalau kawin dengan peranakan, nanti kamu makan pakai tangan."

Sedangkan orang totok biasa menghalangi anaknya kawin dengan hollands spreken dengan kata-kata, "Kamu nanti jadi orang yang tidak tahu adat." Atau, "tidak mau lagi menghormati leluhur."

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Yang hollands spreken umumnya menyekolahkan anaknya di sekolah berbahasa Belanda. Atau mengirim anak mereka ke Holland atau Jerman. Yang peranakan mengirim anaknya ke sekolah terdekat, termasuk tidak masalah kalau harus ke sekolah negeri. Yang totok menyekolahkan anaknya ke sekolah berbahasa Tionghoa. Semua itu terjadi dulu.

Bagaimana sekarang?

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI
Tionghoa Bersambut, Bagaimana Yin Ni Hua Ren?

Zaman berubah. Bahkan, setelah kejatuhan Orde Baru, perubahan itu begitu drastisnya, sehingga terasa terlalu tiba-tiba. Belum pernah orang Tionghoa mendapat posisi sosial-politik sehebat sekarang. Sampai akhir Orde Baru pun, kita tidak akan menyangka bahwa kita bisa berubah sedemikian hebat.

Memang terlalu banyak orang Tionghoa yang jadi ''tumbal'' untuk perubahan itu. Yakni, mereka yang menjadi korban peristiwa Mei 1998 di Jakarta yang jadi awal ''zaman baru'' bagi Tionghoa Indonesia itu.

Tapi, juga terlalu banyak untuk disebutkan jasa pejuang demokrasi seperti Amien Rais, Gus Dur, dan seterusnya, yang meski secara khusus perjuangan dan pengorbanan mereka tidak dimaksudkan untuk membela golongan Tionghoa, tapi hasil perjuangan itu secara otomatis ikut mengangkat posisi sosial-politik masyarakat Tionghoa menjadi sejajar dengan suku apa pun di Indonesia.

Kini, pada zaman baru ini, penggolongan lama ''totok, peranakan, dan Hollands spreken'' sama sekali tidak relevan lagi. Bukan saja tidak relevan, bahkan memang sudah hilang dengan sendirinya. Kawin-mawin antartiga golongan itu sudah tidak ada masalah sama sekali. Status sosial tiga golongan tersebut juga sudah tidak bisa dibedakan. Jenis pekerjaan dan profesi di antara mereka juga sudah campur-baur. Membedakan berdasar di mana sekolah anak-anak mereka juga sudah tidak berlaku.

Berkat demokrasi, pembedaan berdasar apa pun tidak relevan lagi. Bahkan, pembedaan model lama antara hua ren dan penti ren tidak boleh lagi. Tapi, bukan berarti tidak ada masalah. Misalnya, dalam zaman baru ini, bagaimana harus mengidentifikasikan dan menyebut hua ren?

Saya pernah menghadiri satu seminar yang diadakan INTI di Jakarta. Dalam forum itu, antara lain, disinggung soal bagaimana harus menyebut orang Tionghoa di Indonesia dalam bahasa Mandarin. Kalau panggilan nonpribumi sudah tidak relevan dan seperti kelihatan antidemokrasi, lantas kata apa yang bisa dipakai untuk menyebutnya dalam bahasa Mandarin?

Dalam bahasa Indonesia, semua sudah seperti sepakat bahwa sebutan Tionghoa adalah yang paling menyenangkan. Tionghoa sudah berarti ''orang dari ras cina yang memilih tinggal dan menjadi warga negara Indonesia''. Kata Tionghoa sudah sangat enak bagi suku cina tanpa terasa ada nada, persepsi, dan stigma mencina-cinakan. Kata Tionghoa sudah sangat pas untuk pengganti sebutan ''nonpri'' atau ''cina''.

Saya sebagai ''juawa ren'' (meski xian zai wo de xin shi hua ren de xin) semula agak sulit memberi penjelasan kepada pembaca mengapa menyebut ''cina'' tidak baik? Apa salahnya? Luar biasa banyaknya pertanyaan seperti itu. Terutama sejak Jawa Pos Group selalu menulis Tionghoa untuk mengganti kata nonpri atau cina.

Jawa Pos memang menjadi koran pertama di Indonesia yang secara sadar mengambil kebijaksanaan tersebut. Memang ada yang mencela dan mencibir bahwa Jawa Pos tidak ilmiah. Juga tidak mendasarkan kebijakan itu pada kenyataan yang hidup di masyarakat, yakni bahwa semua orang sudah terbiasa menyebut kata ''cina''. Mengapa harus diubah-ubah?

Saya tidak bisa menjawab dengan alasan bahwa kata cina itu terasa ''menyudutkan'' dan ''menghinakan''. Mereka akan selalu bilang bahwa ''kami tidak merasa seperti itu''. Atau, mereka akan mengatakan ''Ah, itu mengada-ada''. Bahkan, ada yang bilang, ''Kok kita tidak ada yang tahu ya bahwa sebutan cina itu melecehkan''.

Memang, kenyataannya sebenarnya seperti itu. Tapi, juga tidak mengada-ada bahwa golongan Tionghoa merasa seperti itu. Setidaknya sebagian di antara mereka yang lama-lama menjadi mayoritas di antara mereka. Yakni, sejak awal Orde Baru, sejak ada desain dari penguasa waktu itu bahwa penyebutan kata ''cina'' bukan lagi untuk identifikasi ras saja, tapi juga untuk ''menyudutkan'' ras tersebut. Yakni, untuk ''mencina-cinakan'' mereka dalam konotasi yang semuanya jelek.

Tentu, tidak semua orang Tionghoa tahu itu. Bahkan, banyak orang Tionghoa yang mengatakan ketika dipanggil ''cina'' juga tidak merasa apa-apa. Lebih dari itu, kata Tionghoa berasal dari bahasa daerah di Provinsi Fujian-Guangdong dan sekitarnya.

Lalu, bagaimana dengan orang ''cina'' yang dulunya berasal dari luar wilayah itu? Tapi, adanya latar belakang pencina-cinaan itulah akhirnya yang membuat umumnya orang Tionghoa dari mana pun asal-usulnya dulu ikut tahu dan merasakan penyudutan tersebut.

Lalu, bagaimana saya bisa menjelaskan kepada pembaca koran Jawa Pos Group agar bisa menerima istilah Tionghoa sebagai pengganti ''cina''? Terutama bagaimana saya bisa meyakinkan para redaktur dan wartawan di semua koran Jawa Pos Group (tentu tidak mudah karena kami memiliki sekitar 100 koran di seluruh Indonesia) yang semula juga sulit diajak mengerti?

Untuk ini, saya harus mengucapkan terima kasih kepada pemimpin INTI, khususnya Eddy Lembong yang sangat cerdas itu. Entah bagaimana, Eddy Lembong bisa menemukan adanya salah satu ayat dalam ajaran Islam yang kalau diterjemahkan artinya begini: ''Panggillah seseorang itu dengan panggilan yang mereka sendiri senang mendengarnya''.

Ini dia. Saya dapat kuncinya. Saya dapat magasin berikut pelurunya. Maka, saya pun menjelaskan bahwa tidak ada orang ''cina'' yang tidak suka kalau dipanggil Tionghoa. Sebaliknya, banyak orang Tionghoa yang tidak senang kalau dipanggil ''cina''. Dengan logika itu, apa salahnya kita menuruti ayat dalam ajaran Islam tersebut dengan memberikan panggilan yang menyenangkan bagi yang dipanggil?

Mengapa kita harus memanggil ''si gendut'' untuk orang gemuk atau ''si botak'' terhadap orang yang tidak berambut, meski kenyataannya demikian? Atau, kita memanggil dengan ''si kerbau'' meski dia memang terbukti bodoh?

Kini, setelah lebih dari delapan tahun Jawa Pos Group menggunakan istilah Tionghoa, rasanya sudah lebih biasa. Juga lebih diterima.

Yang masih sulit adalah justru bagaimana orang Tionghoa Indonesia sendiri menyebut dirinya dalam bahasa Mandarin? Apakah masih ''women zhong guo ren''? Atau ''hua ren''? Atau ''Yin Ni Hua Ren''? Lalu, bagaimana orang Tionghoa menyebut Tiongkok dalam pengertian RRC? Masihkah harus menyebutnya dengan ''guo nei''?

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Kiprah Etnis Tionghoa di Jalur Politik Tanah Air
Tersebar, Belum Strategis Bikin Partai

Sejarah perpolitikan Indonesia tak pernah sepi dari kiprah politisi Tionghoa. Mulai mereka yang bergabung ke partai lain hingga yang mendirikan partai sendiri. Efektifkah jika etnis Tionghoa bikin partai sendiri?

Michael Backman, kolumnis Australia, pernah merilis hasil penelitian tentang kapitalisasi pasar 300 konglomerat Indonesia sekitar tiga tahun sebelum krisis 1998. Menurut dia, komunitas Tionghoa yang hanya dua persen di antara total populasi, ternyata, menguasai 73 persen kapitalisasi pasar di Indonesia.

Menurut sensus kependudukan Badan Pusat Statistik pada 2000, etnis Tionghoa menempati ranking 15 di antara 101 kelompok etnis di Indonesia. Cacah jiwa etnis Tionghoa ketika itu hanya 1,738 juta jiwa atau sekitar 0,86 persen di antara total 201,092 juta jiwa penduduk Indonesia.

Tapi, hasil sensus tersebut dibantah pakar studi etnis Tionghoa Prof Leo Suryadinata. Dalam jurnal Institute of South East Asian Studies (ISEAS), pengajar Universitas Rajaratnam di Singapura itu memperkirakan, jumlah warga etnis Tionghoa di Indonesia 1,45 persen-2,04 persen di antara total populasi. Artinya, jumlah etnis Tionghoa di Indonesia berkisar 3 juta hingga 4 juta jiwa. Jumlah tersebut menempatkan etnis Tionghoa pada peringkat 10 terbanyak di antara kelompok-kelompok etnis di Indonesia.

Sensus tersebut juga memperlihatkan populasi etnis Tionghoa yang berhasil menduduki tempat cukup signifikan dalam sosiologi masyarakat di 11 provinsi. Ketika itu, jumlah etnis Tionghoa lebih dari lima persen penduduk Jakarta, terbanyak kedua setelah etnis Melayu di Bangka-Belitung, dan ketiga terbanyak setelah etnis Dayak dan Melayu di Kalimantan Barat.

Ketika era reformasi bergulir, sejumlah warga etnis Tionghoa mulai terjun ke politik dengan menjadi anggota legislatif maupun eksekutif. Pada 1999, tercatat 150-an calon anggota legislatif dari etnis Tionghoa. Ketika itu, lima anggota DPR dan tujuh anggota MPR yang terpilih berasal dari etnis Tionghoa.

Pada Pemilu 2004, jumlahnya meningkat, yaitu tercatat lebih dari 200 caleg Tionghoa. Namun, hanya segelintir yang terpilih. Ironisnya, tak satu pun etnis Tionghoa yang terpilih sebagai anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Namun, sejumlah jabatan eksekutif mulai diraih etnis Tionghoa. Mulai Kwik Kian Gie yang diangkat sebagai menteri PPN/kepala Bappenas di era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) hingga Mari Elka Pangestu di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Pada 2007, Basuki Tjahaja Purnama juga terpilih sebagai bupati Bangka. Setahun kemudian, Christiandy Sanjaya terpilih sebagai wakil gubernur Kalimantan Barat.

Peran yang lebih strategis dalam politik juga telah diupayakan melalui pendirian sejumlah partai politik berbasis etnis Tionghoa. Pada awal reformasi politik 1999, Partai Pembauran Indonesia (Parpindo) dideklarasikan sejumlah tokoh Tionghoa, antara lain, pengusaha Yusuf Hamka, Junus Yahya, Budi Santoso, Ramli Salim, Juniar Zainuddin, Dih Liang, dan Verawaty Fajrin.

Disusul kemudian deklarasi Partai Reformasi Tionghoa Indonesia (Parti) oleh Lius Sungkharisma, Gunawan Tjahjadi, Ponijan, dan Cecep Adi Saputra. Selain itu, Partai Bhineka Tunggal Ika (PBI) yang didirikan Oe Nang Pin, I Fung, Yang Thai Sung, dan Lie Kaoy Sien. Hasilnya, hanya PBI yang lolos verifikasi Departemen Hukum dan HAM. Partai itu pun hanya mampu menempatkan L.T. Santoso di kursi DPR dari daerah pemilihan Kalimantan Barat.

Menurut logika politik, pendirian partai politik berbasis etnis Tionghoa memang kurang prospektif. Kegagalan pendirian partai politik berbasis etnis Tionghoa tak dapat dilepaskan dari sosiologi dan pandangan politik etnis Tionghoa yang heterogen. "Belum lagi dari segi agama. Ada yang beragama Konghucu, Tao, Buddha, Kristen, Katolik, bahkan Islam. Belakangan, ada lagi pembagian berdasar kota tempat tinggal, kata Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jakarta Benny G. Setiono.

Ketika Muslim Tionghoa Merayakan Imlek
Tetap Beri Angpau, Ganti Hidangan Babi dengan Sapi


Warga Tionghoa yang beragama Islam tetap merayakan tradisi Imlek. Mereka membuat kue nian gao, bikin pohon meihwa, serta bagi-bagi angpau. Adakah ritual yang diganti?

Novita Amelilawaty, Jakarta

Bagi muslim Tionghoa, tradisi Imlek tak akan pernah ditinggalkan. Mereka tetap berbondong-bondong belanja untuk kebutuhan Imlek. Misalnya, yang dilakukan Julian Latif dan Hariyanto. Mereka adalah pengusaha yang sama-sama bergabung di Muslim Tionghoa dan Keluarga (Mustika).

Julian mengatakan, secara garis besar, tidak ada perbedaan dalam merayakan Imlek ketika dirinya masih memeluk Buddha dan sesudah menjadi muslimah. "Saya dibesarkan di keluarga Tionghoa asli. Jadi, sudah mengenal ritual-ritual yang dilakukan Ama (nenek) dan Akung (kakek)," kenang Julie -sapaan akrabnya- ketika ditemui di toko IT miliknya di Mangga Dua Mall, Jakarta. Wanita yang masuk Islam sejak SMA atau pada 1989 itu mengaku, perbedaan antara perayaan Imlek dulu dan sekarang hanya pada ritual sembahyang di kuil.

"Sejak masuk Islam, saya tidak pernah lagi ke kuil," kata Julie. Tetapi, dia masih berdoa di meja abu tempat keluarga meletakkan abu jenazah leluhur. "Berdoa dan berziarah kan tidak dilarang Mbak, tak harus di kuil," lanjutnya. Ada beberapa perayaan lain yang masih diikuti Julie, seperti cheng beng (untuk orang mati), malam che it, malam cap go, serta ziarah ke makam nenek, kakek, dan ayahnya. Ritual, seperti sembahyang di Ching The Yen, tuang minyak, dan bakar hio, sudah ditinggalkan.

Selain itu, Julie dan anaknya senang berbelanja pohon meihwa dan amplop untuk angpau. Julie menceritakan, tradisi angpau tak pernah dia tinggalkan, meski sudah beragama Islam. "Saya sediakan untuk anak-anak yang datang ke rumah," katanya, kemudian tersenyum. Bunga-bunga sedap malam, pohon jeruk, dan anggrek tak luput dari incarannya. "Saat ini, rumah saya mulai dihiasi pohon-pohon dan sedap malam," ujarnya.

Lain yang dilakukan Julian, lain pula yang dilakukan Hariyanto. Pria bernama asli Liem Tjeng Lie itu adalah pengusaha EO dan biro travel umrah dan haji di Jakarta.

"Apa yang saya lakukan di tahun baru Imlek mungkin dilakukan juga oleh umat Islam Tionghoa lainnya," kata Hariyanto.

Ketika ditemui Indo Pos (Jawa Pos Group), pria beranak dua itu tengah berbelanja kebutuhan Imlek di Grand Indonesia Shopping Town Jumat lalu (23/1). Hariyanto membeli sekeranjang penuh buah-buahan manisan khas Imlek, seperti ceremai merah Singapura, jeruk linkit/kitna, dan plum bulu. "Ini yang chen liang ji, rasanya enak sekali," lanjutnya.

Hariyanto pernah memeluk tiga agama sebelum mantap di Islam pada 1998. Dia pernah memeluk Buddha, Kristen, dan Katolik. Saat memeluk tiga agama tersebut, Hariyanto tetap mengikuti ritual Imlek, mulai sembahyang di kuil sampai menyediakan makanan dan minuman khas Imlek. Tetapi, setelah memeluk Islam, dia tak lagi ke kuil.

Kegiatan yang paling menyibukkan selama Imlek bagi Hariyanto adalah menyiapkan menu khas Imlek. Makanan yang selalu ada ketika masih beragama nonmuslim adalah pindang bandeng; masakan kesukaan leluhurnya seperti babi kecap, dan hoysom; serta buah-buahan seperti anggur, apel, dan jeruk. Tak ketinggalan manisan buah yang manis-manis dan berwarna merah. Untuk minuman, di rumah Hariyanto selalu tersedia kopi, teh, arak, angchu (wine), dan rokok.

Namun, sejak memeluk Islam, Hariyanto merombak total menu makanan dan minuman Imlek-nya. Misalnya, babi kecap diganti dengan semur daging sapi atau kerbau, sesuai shio tahun. Lalu, anggur/wine yang mengandung alkohol diganti dengan sirup stroberi atau ceri merah. Begitu pula dengan arak China diganti dengan sirup leci. "Secara penampilan sama warnanya, tetapi halal," kata Hariyanto. Kue-kue yang tersedia serbamanis, termasuk kue keranjang yang direbus atau digoreng dengan telur. "Kue itu wajib hadir di rumah kami karena simbol kemakmuran, manis," lanjutnya.

Membeli baju baru juga merupakan tradisi keluarga Hariyanto pada malam Imlek. Ketika semua orang yang murni merayakan Imlek sembahyang ke kuil, Hariyanto justru shopping bersama anaknya.

Sebelum tidur, Hariyanto memasukkan uang lima ribuan dan lima puluh ribuan ke dalam amplop merah. "Isi angpau," ujarnya. Angpau itu diberikan kepada keponakan-keponakannya yang berkunjung. Satu yang pertama diminta anak-anaknya adalah angpau di pagi hari. "Kalau sudah salat Subuh, langsung tagih angpau," tuturnya, kemudian tertawa.

Sama seperti muslim Tionghoa lainnya, di Tahun Kerbau ini, Hariyanto berharap yang manis-manis untuk kehidupannya kelak. "Semoga usaha saya lancar, diberikan kemakmuran, dan banyak rezeki," harapnya. Dia yakin doanya akan terkabul karena dirinya sudah menyebutkan permohonan tiga kali. "Permohonan di tahun baru Masehi, tahun baru Islam, dan nanti di tahun baru Imlek," kata Hariyanto, kemudian tersenyum.


Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Shio Kerbau, Obama Dinaungi Keberuntungan
Akankah tahun kerbau ini membawa perubahan? Dari kacamata peramal Fengshui Tiongkok, tahun ini akan sama saja dengan tahun sebelumnya. Itu karena tak ada api, satu dari lima elemen mistis pembentuk alam semesta (logam, kayu, air, api, dan bumi) atau disebut Wu Xing. Padahal, menurut mereka, api adalah faktor esensial untuk mengatasi krisis finansial global yang kini terjadi.

''Api adalah penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Tanpa itu, pasar kekurangan momentum,'' kata Raymond Lo, master feng shui Hongkong.

Peramal Tiongkok juga melihat adanya gejala resesi makin parah, pengangguran makin tinggi, saham kian anjlok dan harga rumah akan makin jatuh. Selain bidang ekonomi, juga ada prediksi-prediksi lain, yakni, akan terjadi gempa bumi dahsyat, hubungan Amerika Serikat dan Rusia makin runcing dan sejumlah masalah akan mendera presiden baru Amerika Serikat, Barack Obama. Kebetulan, Obama lahir pada tahun kerbau. Dan, dia kini menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat, angka yang menyiratkan ketidakberuntungan. Di Tiongkok, angka empat sama artinya dengan kematian.

Namun, jangan buru-buru panik dulu. Tahun kerbau ini juga menyiratkan keberuntungan dan harapan. Itu karena kerbau memiliki sifat gigih dan bersemangat baja. Jadi, separah apapun krisis yang kini melanda, bila semangat masih membuncah, bakal teratasi. Bila berkaca pada sejarah, tahun 1949 juga adalah tahun kerbau.

Sebelum tahun itu dunia dihinggapi krisis lebih parah, yakni perang dunia. Tahun 1949 menjadi titik balik dunia. Tahun itu terjadi sejumlah peristiwa penting yakni berdirinya NATO, Jerman terbelah jadi dua, Republik Rakyat Tiongkok berdiri. Tahun itu pula Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Vietnam juga merdeka pada tahun tersebut. Tahun 2009 berpeluang mengulang sejarah itu.

Apalagi, para pemimpin top dunia tercatat lahir pada tahun kerbau. Antara lain, Napoleon Bonaparte, Hitler, Saddam Hussein, Putri Diana, Margaret Thatcher, dan Richard Nixon.

Dan terakhir, Barack Hussein Obama, presiden baru Amerika Serikat berdarah Afrika Amerika yang dengan lantang menyuarakan perubahan. Mampukah? Waktu yang akan membuktikannya.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Jika Imlek Hujan, Rezeki Lebih Lancar?
Apa makna perayaan Imlek bagi para tokoh Tionghoa yang juga pengusaha sukses berikut ini? Dirut PT Sido Muncul Irwan Hidayat mengatakan selalu merayakan Imlek seperti halnya tahun baru Masehi dan Idul Fitri.

"Wong seneng-seneng aja kok," tutur Irwan. Ingatannya lantas terbawa ke tahun 1965. Ketika itu umurnya sekitar 18 tahun. "Waktu itu saya sering dipanggil Cino. Itu jelas-jelas perlakuan diskriminatif. Tapi, sekarang terjadi perubahan luar biasa," ujarnya.Bahkan, papar dia, saat ini bukan hanya etnis Tionghoa yang merayakan Imlek. Semua orang ikut merayakan sesuai dengan tradisi Tionghoa. "Coba pergi ke Jawa, yang main barongsai ya orang Tionghoa, Jawa, Batak. Menurut saya, itu kemajuan yang fundamental," terangnya.

Alim Markus lain lagi. Menurut Presiden Direktur Grup Maspion tersebut, Imlek berarti harus kembali bekerja. Itulah hakikat sejati Imlek yang harus diresapi oleh seluruh masyarakat etnis Tionghoa. Dengan begitu, pergantian tahun dimaknai sebagai kehidupan yang lebih baik daripada tahun sebelumnya. Di Indonesia, Imlek dimaknai dengan lebih mistik. Jika terjadi hujan, berarti kehidupan atau rezeki tahun depan akan lebih baik. Kalau tidak ada hujan, berarti seret. "Padahal, Imlek selalu bertepatan dengan musim penghujan, berarti untung terus ha..haa..," ucapnya.

Dia menyatakan, bagi Indonesia, dilegalisasinya perayaan Imlek merupakan sebuah anugerah nyata.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Para Peramal Bicara Peruntungan di Tahun Kerbau
Waspadai Binatang Pembajak yang Bisa Memberontak


Tahun Tikus berakhir hari ini, Tahun Baru Imlek 2560. Setelah ''era'' tikus, kini giliran masa kerbau. Aswin Wibisono dan Suhu Jimmi Kurniawan punya pendapat soal tahun anyar tersebut.

IGNA ARDIANI ASTUTI

KERBAU yang ''merajai'' tahun ini dipercaya sebagai kerbau tanah. Secara garis besar, mereka yang dinaungi shio tersebut sangat tulus hati, dapat diandalkan, bertanggung jawab, dan pekerja ulet. Pembawaannya pun tenang dan sabar. Meski terlihat kalem, sekali dibuat jengkel, si kerbau bisa mengamuk habis-habisan.

Tahun Kerbau tanah yang berlangsung mulai 26 Januari 2009 sampai 13 Februari 2010 itu, menurut Aswin Wibisono, awalnya memang terlihat tenang seperti sifat hewan pembajak itu. Namun, karena banyaknya kejadian-kejadian yang merangsang, si kerbau pun berontak.

Hal tersebut ditandai dengan pergolakan di mana-mana. Mulai demo, kerusuhan, hingga saling menjelek-jelekkan satu sama lain. ''Pergolakan itu terjadi akibat suasana politik yang tidak baik. Terutama saat pemilu nanti,'' kata Aswin. Celakanya, kondisi politik yang carut-marut tersebut berdampak buruk terhadap rakyat kecil. Ekonomi terguncang.

Guncangan itu memang tak berlangsung lama. Suhu Jimmi Kurniawan mengatakan, beberapa bulan setelah pemilu, kondisi ekonomi bangsa perlahan-lahan membaik. ''Kisarannya sekitar Agustus,'' ujar pria 63 tahun tersebut.

Membaiknya ekonomi itu diikuti iklim usaha yang makin kondusif. Karena tahun ini elemennya tanah, usaha-usaha yang masuk unsur kayu bakal moncer. Elemen kayu berjaya. Sebab, kayu merupakan elemen yang menguasai tanah. Usaha yang berkategori kayu itu, misalnya, tekstil, kertas, dan surat kabar. Mereka yang menekuni usaha ekspor dan impor juga menuai hasil yang memuaskan.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Unsur tanah yang kurang baik berpengaruh terhadap unsur besi. Besi pun ikut tidak baik. Karena itulah, bidang usaha yang termasuk dalam elemen besi akan tersendat-sendat. Misalnya, bank, asuransi, saham, mesin, alat berat, dan elektronik.

Sesuai dengan sifat kerbau yang pekerja keras dan ulet, mereka yang rajin akan banyak mendapat limpahan rezeki. ''Tahun ini adalah tahun pekerja. Kerbau yang malas tentu tidak akan mendapat apa-apa,'' ungkap Aswin.

Soal kondisi alam, Aswin maupun Jimmi mengatakan, beberapa bencana masih akan mewarnai sepanjang tahun ini. Misalnya, gempa bumi dan tanah longsor. Namun, korban tidak begitu banyak. Menurut prediksi Jimmi, bencana paling parah terjadi pada September atau Desember. ''Gempa bumi,'' ucapnya. Yang juga perlu diperhatikan, akan ada banyak penyakit yang melanda tahun ini. Terutama, penyakit yang berkaitan dengan saluran cerna.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Imlek Masih Ikut Orang Tua
Leony Vitria Hartanti mengaku tak punya tradisi khusus pada tahun baru Imlek. Bintang sinetron yang juga mantan personel Trio Kwek Kwek itu mengatakan, dirinya tidak mempersiapan apa-apa menjelang Imlek karena semua ditangani orang tua.

Meski sudah beranjak dewasa dan berpenghasilan sendiri, Leony merasa setiap tahun, setiap Imlek, belum ada perubahan. Masih sama dengan ketika dia kanak-kanak. ''Semua sudah dipersiapkan'Papa. Makanya aku'nggak pernah sibuk setiap perayaan Imlek,'' ujarnya saat dihubungi Jawa Pos Rabu pekan lalu (21/01).

Tradisi juga membuatnya tidak repot menyiapkan uang angpao untuk dibagikan kepada keluarga dan saudara. Sebab, dia belum menikah. Aturannya, yang boleh memberi hanya yang sudah menikah. ''Paling aku cuma kebagian membagikan angpao dari Papa karena kata Papa yang memberikan angpao itu hanya yang sudah nikah,'' jelas perempuan kelahiran 20 September 1987 itu.

Apa harapan dan doa Leony dalam memasuki tahun'kerbau merah sekarang ini? ''Sebenarnya kalau berharap-berharap gitu, aku sama keluarga tak pernah mengikutinya. Cuma yang namanya harapan pasti mau yang terbaik ya,'' jawab mantan kekasih Eross Chandra, gitaris Sheila On 7, itu.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Praktik Diskriminasi Sudah Selesai
Ketika menjadi presiden menggantikan Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional. Itu terjadi pada 17 Februari 2002. Berikut petikan wawancara dengan Megawati.

-----

Bagaimana Anda melihat perayaan Imlek tahun ini?

Menurut saya, perayaan Imlek tahun ini tidak seramai dan semeriah tahun lalu. Mungkin karena semua orang tahu, saat ini keadaan ekonomi masyarakat terganggu dengan masalah ekonomi nasional dan global. Namun, kondisi ini hendaknya tidak mengurangi makna perayaan tahun baru Imlek itu sendiri.

Apa pertimbangan Anda ketika memutuskan Imlek sebagai hari libur nasional?

Pertama, karena larangan perayaan Imlek telah dicabut. Pertimbangan berikutnya, lahir dari harapan masyarakat yang ingin agar ada hari libur untuk merayakan Imlek. Sebagai bangsa yang menjunjung keberagaman serta mengingat cukup banyaknya masyarakat etnis Tionghoa, sudah selayaknya kita memberikan kesempatan untuk merayakan tahun baru Imlek, seperti halnya kita memberikan kesempatan untuk merayakan tahun baru Masehi, tahun baru Hijriah maupun tahun baru Galungan.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Menurut Anda, apakah praktik diskriminasi negara terhadap etnis Tionghoa saat ini sudah selesai?

Secara normatif, hal ini sudah selesai. Kita sudah memiliki UU Kewargenegaraan yang cukup jelas serta peraturan lain yang memberikan kesempatan sama kepada seluruh warga negara Indonesia, termasuk di dalamnya yang beretnis Tionghoa. Namun, memang masih ada kendala kultural di lapangan. Tidaklah mudah mengubah kerangka berpikir masyarakat yang selama ini sudah dicekoki ketakutan untuk menghargai keberagaman selama 30 tahun lebih. Ini menjadi tantangan bagi kita semua, bagaimana menjadikan keberagaman etnis, adat, ataupun agama yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai hal yang mempersatukan kita dan mengangkat harkat dan martabat bangsa di mata dunia.

Apa harapan Anda terhadap etnis Tionghoa di Indonesia?

Kontribusi yang saya harapkan, impikan dari seluruh bangsa Indonesia, tidak hanya pada etnis Tionghoa adalah suatu hal yang amat penting. Yaitu, bangsa Indonesia bisa memperbaiki mental diri masing-masing untuk bisa percaya. Mempunyai keyakinan bahwa bangsa Indonesia bisa maju ke depan, bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya. Bisa sekuat dan sekukuh bangsa lain serta mempunyai harga diri dan martabat sebagai sebuah bangsa besar.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Saya Keturunan Tan Kim Han
Di beberapa kesempatan, Gus Dur kerap mengungkapkan bahwa dirinya masih memiliki darah Tionghoa. Meski demikian, dia menegaskan, pembelaannya terhadap warga kelompok minoritas itu selama ini bukan semata-mata karena faktor keturunan.

Menurut Gus Dur, nenek moyangnya memang asli dari Tiongkok. Yaitu, duta besar Tiongkok di masa Kerajaan Majapahit. Namanya Tan Kim Han. Saat tinggal di tanah Jawa, dia menikah dengan Tan A Lok yang merupakan saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak.

Tan A Lok dan Tan Eng Hwa merupakan anak putri Campa. Yaitu, seorang putri dari Tiongkok yang merupakan salah seorang selir Raden Brawijaya V. "Tan Kim Han ini dikenal sebagai orang Tiongkok yang rajin ibadah," ujar Gus Dur kepada Jawa Pos.

Karena itu, menurut mantan presiden ke-4 RI itu, oleh masyarakat, Tan Kim Han diberi panggilan Syekh Abdul Qodir Al-Shini. Berdasar penelitian seorang peneliti Prancis Louis-Charles Damais, Tan Kim Han diidentifikasi sebagai seorang tokoh yang makamnya ditemukan di Trowulan, Jawa Timur.

"Kalau diurut-urut lagi, sampai di Sunan Ampel yang salah satu keturunannya adalah Kiai Hasyim Asyari, kakek saya. Tapi, ya itu tadi, sudah bercampur-campur dengan Arab dan India," tambah pendiri PKB tersebut.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Meski demikian, lanjut Gus Dur, bukan darah Tionghoa yang membuat dirinya begitu getol membela kelompok minoritas. Namun, lebih karena komitmennya menegakkan pluralisme di Indonesia. "PKI kan juga saya bela, TAP MPR tentang PKI juga sudah saya cabut," jelasnya.

Ketika menjadi ketua umum PBNU, Gus Dur pernah membela pasangan Tionghoa yang ngotot menikah secara Konghucu. Padahal, saat itu pemerintah belum mengakui Konghucu sebagai agama.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

BONSAI SAKURA trend Imlek 2009
Resminya, perayaan Imlek baru akan digelar dua pekan ke depan, tepatnya pada 26 Jnauari. Namun antusiasme warga etnis Tionghoa menyambut datangnya hari kemenangan membuat suasana Tahun Baru China kali ini semarak belum waktunya.

Terbukti pedagang pernak – pernik Imlek mulai menjamur di kawasan Pasar Lama Kota Tanggerang, sejak dua pecan mnjelang perayaan Imlek yang jatuh tepat tanggal 26 Januari 2009 ini.

Menyambut Imlek, warga etnis Tionghoa mulai gencar untuk berburu pernak – pernik yang bernuansa merah untuk Imlek. Mulai dari kertas angpau, lampion, patung kucing hoki, hio, bonsai sakura, kaktus, dll.

Dan yang paling diburu oleh warga etnis Tionghoa adalah Bonsai Sakura. Pasalnya Imlek tahun ini favoritnya adalah Bonsai sakura, meski harganya yang terbilang cukup mahal, dalam sehari aksesori Imlek yang didesain menyerupai pohon Natal ini bisa terjual anatara 10 -20 pohon. Bonsai Sakura yang paling diminati adalah yang berukuran satu meter, yang harganya berkisar Rp. 500.000.

Peminat yang begitu besar terhadap Bonsai Sakura membuat pedagang kewalahan menanganinya. Karena para pembeli tahun ini lebih terfokus pada bonsai sakura, jika mereka telah membeli bonsai sakura, biasanya mereka tidak akan membeli pernak – pernik lainnya yang berhubungan Imlek. Mereka lebih terfokus untuk menghisa Bonsai, Ujar Hendrik (Pedagang Pernak – pernik Imlek)

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Senin, 26 Januari 2009 00:42 WIB
Tahun Baru Imlek di Beijing Diramaikan Petasan dan Kembang Api
REUTERS
BEIJING--MI: Suasana Beijing sejak sore hingga malam hari "diramaikan" oleh suara petasan dan kembang api yang memancar ke udara sehingga membuat suasana malam menjadi lebih ramai sesaat menjelang Tahun Baru China atau Imlek.

Wartawan Antara, di Beijing, Minggu (25/1), melaporkan sejumlah warga sejak pagi hingga malam hari tidak henti-hentinya menyalakan petasan dan kembang api beraneka rupa, suara dan warna sehingga banyak warga yang terkejut hingga terpesona.

Suara petasan tampak tidak henti-hentinya terdengar di sejumlah wilayah Beijing, demikian pula kembang api yang berwarna-warna dan menimbulkan suara keras juga tampak terus mengudara sehingga tampak indah menembus kegelapan malam.

Cuaca dingin minus sembilan derajat Celcius tampak tidak membuat warga Beijing mengurungkan niatnya untuk menyalakan petasan dan kembang api di halaman apartemen masing-masing atau ditepi jalan raya.

Sejumlah pedagang petasan yang mendirikan kios semipermanen pun tampak ramai mengais rejeki mengingat jumlah pembeli yang datang nyaris tidak henti-hentinya.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

"Dari pengalaman tahun-tahun lalu, masyarakat biasanya akan ramai membeli petasan dan kembang apa pada malam Imlek. Hal ini juga dialami tahun ini," kata Zhou yang berdagang petasan di wilayah Tuan Jie Hu.

Menurutnya, sekalipun penjualan meningkat tapi dirinya tidak menaikkan harga karena harga yang dijual sudah ditentukan dari pabrik dan semua pedagang hampir seluruhnya menjual dengan harga sama untuk jenis sama.

Harga yang ditawarkan bervariasi mulai dari 20 yuan (sekitar Rp32.000) hingga 6.800 yuan (sekitar Rp10,88 juta).

Murah mahalnya harga petasan dan kembang api yang dijual tergantung dengan lama atau sebentarnya suara yang dihasilkan. "Makin lama suara petasan atau kembang api yang dihasilkan maka makin mahal harga jualnya," katanya berpromosi.

Sekalipun harga petasan dan kembang api cukup mahal, ia mengaku, warga yang membeli dengan harga mahal cukup banyak.

Sementara suasana Beijing tampak lebih sepi dibanding hari-hari biasa mengingat banyak warga setempat yang telah meninggalkan ibukota China itu untuk "mudik" ke kampung halamannya masing-masing.

Jalan Dongzhimenwai Dajie yang biasanya ramai dan padat dengan kendaraan yang melintas, pada malam Imlek tampak sepi.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Demikian juga kereta api bawah tanah (subway) yang pada hari Minggu biasanya padat, pada malam Imlek juga sepi dari penumpang.

Beberapa mal yang sehari sebelumnya tampak ramai dipadati warga untuk belanja, pada malam Imlek banyak yang sudah tutup sejak pukul 17.00 waktu setempat.

Suasana ramai justru terjadi di sejumlah restoran mengingat banyak keluarga yang menjamu relasi dekat atau keluarga lainnya untuk makan malam dalam menyambut tahun baru Imlek.

Sebuah restoran di wilayah Tuan Jie Hu misalnya, yang menghidangkan makanan khas Sichuan tampak ramai dikunjungi tamu dan mereka umumnya tampak suka ria, berbincang dengan saudar-saudaranya.

"Sudah menjadi tradisi bagi kami untuk menjamu relasi atau tamu dengan makan malam menjelang Imlek sebagai tanda persahabatan," kata Xiu, warga Chaoyang. (Ant/OL-06)

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Tak Tertarik Partai Khusus Tionghoa
Politikus PAN Alvin Lie sama sekali tak tertarik dengan wacana pembentukan partai khusus untuk etnis Tionghoa. Menurut Alvin yang duduk di Komisi VII DPR, partai akan efektif bila berorientasi mewadahi kepentingan segenap unsur bangsa. Kalau partai berbasis kesukuan, hal itu justru berpotensi mengotak-kotakkan bangsa. ''Ini tidak selaras dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika,'' kata pemilik nama lengkap Alvin Lie Ling Piao tersebut.

Karena itu, Alvin menganggap wajar bila warga Tionghoa menyebar ke berbagai parpol. Apalagi, imbuh dia, dalam realitasnya, warga Tionghoa sangat majemuk dengan beragam latar sosial, ekonomi, dan sikap politik. ''Tapi, apa pun partainya, orang Tionghoa harus mengawal demokrasi yang telah dibangkitkan reformasi,'' tegas caleg nomor urut 5 dari dapil Jateng V itu.

Alvin beralasan, berkat demokrasi, warga Tionghoa kini bisa mengekspresikan diri dan tradisinya dengan leluasa. Dia mencontohkan, pentas barongsai yang dilarang semasa Soeharto berkuasa. ''Begitu melihat barongsai tampil saat deklarasi PAN di Solo tahun 1998, saya benar-benar terharu. Nggak pernah membayangkan bisa melihat lagi barongsai di Indonesia setelah 1965,'' ujarnya.

Dia punya kisah lain yang cukup memilukan. Menurut Alvin, Kaditsospol Jawa Tengah selalu mengadakan rapat koordinasi saat hari Imlek. Dia bersama teman-temannya sesama warga Tionghoa yang ketika itu aktif di Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa (Bakom PKB) tidak bisa mengelak dari undangan.

''Selalu seperti itu, seolah-olah mencegah. Tapi, sekarang kami bisa merayakannya lebih tenang, nggak usah curi-curi lagi. Bahkan, teman-teman yang bukan Tionghoa pun menyalami,'' kata politikus kelahiran Semarang, 21 April 1961 itu, lantas tersenyum.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Mengenal Imlek = Tahun Baru?

Katagori : Salam & Info
Oleh : Fakta 21 Jan 2004 - 4:30 pm


imageIN Nian Kuaile (Bahagia di Tahun Baru), Guo Nian Hao (Selamat Menjalani Tahun Baru), Chunjie Kuaile (Bahagia di Musim Semi), Sincun Kionghi (Selamat Menyambut Musim Semi yang Baru), Sincia Cuyi (Selamat Tahun Baru), Kiunghi Sinnyen (Selamat Tahun Baru) adalah serangkaian ucapan selamat menyambut Imlek dalam bahasa Mandarin, Hokkian, Tiociu, dan Hakka.

MENGAPA di Indonesia hari raya ini disebut Tahun Baru Imlek? Tidak ada satu pun ucapan itu mengandung kata Imlek. Apa arti kata Imlek? Dari bahasa Mandarin-kah? Tidak! Kata Imlek berasal dari bahasa Hokkian Selatan, berarti "penanggalan bulan". Jadi, kata Imlek sebenarnya mengacu nama penanggalan yang didasarkan perhitungan bulan (lunar), yang dalam bahasa Mandarin disebut yinli. Dengan demikian, istilah Tahun Baru Imlek berarti "Tahun Baru Menurut Penanggalan Bulan".

PENDUDUK keturunan Cina di Jakarta menggunakan kata sincia "bulan 1 yang baru" dengan ucapan Sincun Kionghi "Selamat Menyambut Musim Semi yang Baru" atau Kionghi berarti "Selamat". Juga ada kata konyan yang berasal dari guo nian (bahasa Mandarin), berarti "melewati tahun yang baru".

Di negara asalnya, RRC, perayaan Imlek dinamakan Chunjie, berarti "Perayaan Musim Semi". Kata Chunjie digunakan sejak RRC merdeka. Sebelumnya digunakan istilah Yuandan, berarti pada pertama di tahun yang baru dimasuki. Tahun 1949 Pemerintah RRC menetapkan nama Yuandan untuk Tahun Baru Internasional, 1 Januari, sedangkan Tahun Baru Imlek dinamakan Chunjie.

Upacara menyambut Tahun Baru Imlek adalah Toapekong Naik, dilakukan pada bulan 12 atau Cap Ji Gwee (bahasa Hokkian)/bulan La (bahasa Mandarin) tanggal 23 atau 24.

Kata toapekong bermakna "paman buyut" (saudara laki-laki buyut) dengan makna kiasan "dewa". Biasanya dewa dianggap orang berusia tua. Toapekong digambarkan sebagai orang yang seusia buyut atau generasi di atasnya.

Pada tanggal 23/24 itu, Toapekong yang naik bukan sembarang dewa, tetapi dewa tertentu, yaitu Dewa Dapur bernama Zao Shen. Aliasnya, Kakek Dapur, Raja Dapur, Komandan Dapur Timur, Komandan Kepala Keluarga, Dewa Pelindung Rumah, Dewa Penguasa Penentu Kebahagiaan. Mengingat nama-nama alias itu tidak jauh dari hal seputar rumah tangga, maka dewa ini dianggap sebagai dewa keluarga yang menentukan baik-buruknya nasib suatu keluarga. Di Indonesia Dewa Dapur juga disebut Cao Kun Kong.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Siapa sebetulnya Dewa Dapur ini, mengapa ia begitu dihormati sehingga diadakan upacara khusus, misi apa yang dijalankan? Ada yang mengatakan, ia Kaisar Shen Nong yang mengajari manusia bercocok tanam. Ia pula yang menciptakan api. Dikarenakan jasanya yang besar, setelah wafat ia menjadi dewa yang bernama Zao Shen atau Dewa Dapur.

Misinya, memberi laporan kepada Mahadewa tentang hal baik dan buruk dari keluarga bersangkutan. Karena bersemayam di dapur-di salah satu sudut atau tempat di dapur-ia tahu semua perkara dalam keluarga itu. Di situlah seorang ibu mengomel, ngerumpi bersama ibu-ibu lain, tertawa, dan bercanda bersama anggota keluarga lain sambil mengerjakan urusan rumah tangga. Dewa Dapur yang ada di sana pasti mendengar semua perkataan dan mencatatnya. Tanggal 23 dan 24 Cap Ji Gwee atau bulan 12 adalah saatnya Dewa Dapur naik ke langit, melaporkan seluruh kejadian selama satu tahun kepada keluarga itu.

Agar Dewa Dapur tidak melaporkan hal yang jelek, manusia mencari akal untuk menyenangkan hatinya. Bahkan, manusia sampai memikirkan agar dalam perjalanan menuju langit, kuda tunggangan sang dewa tidak kelaparan, dan hewan peliharaannya di dunia tidak mati kelaparan. Pada tanggal 23 dan 24 itu, rumah Dewa Dapur dibersihkan lalu diberi sesajen. Sesajen ini ada yang wajib; ada yang tidak wajib.

Sesajen wajib berupa permen yang manis, liat, dan lengket, manisan buah kundur yang dikenal sebagai tangkua atau tangkwe. Sesajen tidak wajib berupa roti goreng dan teh, yang merupakan bekal bila sang dewa merasa lapar dan haus. Rumput untuk bekal makanan kuda tunggangan sang dewa, sedangkan kulit tahu untuk ayam peliharaannya yang ditinggalkan di bumi.

Sesajen wajib harus manis supaya sang dewa hanya melaporkan hal-hal yang "manis". Selain manis, juga harus liat dan lengket. Begitu mengulum permen, mulut sang dewa menjadi sulit dibuka sehingga tidak banyak bicara dan hanya tersenyum saja.

Dengan demikian, lengkaplah "perhatian" manusia dalam menghantar dewanya naik ke langit dengan menyimpan maksud tertentu di balik semua itu. Selain itu, pada rumah dewa dipasang bait berpasangan atau duilian berbunyi "naik ke langit mengatakan hal yang baik, pulang ke rumah membawa keberuntungan", atau "naik ke langit mengatakan hal yang baik, turun ke dunia menjaga perdamaian".

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

DI Desa Tai Xing, Provinsi Jiangsu, RRC, penduduk desa percaya sebelum berangkat naik ke langit, Dewa Dapur menghitung jumlah sumpit di rumah tempat tinggalnya. Ketika turun ke bumi, rezeki yang dibawanya sesuai jumlah sumpit yang ada. Sebelum upacara sembahyang, kepala keluarga menambah jumlah sumpit dengan harapan pada saat turun ke bumi nanti, Dewa Dapur akan menambah rezeki mereka.

Bulan 12 berakhir pada tanggal 30. Bulan berikutnya adalah bulan 1 yang disebut Cia Gwee (bahasa Hokkian)/bulan Zheng (bahasa Mandarin). Malam terakhir di bulan 12 ini disebut chuxi, yang berarti "malam yang ditinggalkan", maksudnya malam terakhir di tahun itu yang akan ditinggalkan dalam memasuki tahun baru. Malam itu merupakan malam paling baik, ramai, dan menyenangkan karena merupakan malam menyambut kedatangan hari pertama di tahun yang baru.

Ada tiga kegiatan penting pada malam itu. Sebelum acara makan malam bersama, kepala keluarga memasang petasan. Kemudian, pintu utama rumah ditutup dan disegel dengan kertas merah. Tujuannya, agar hawa dingin-karena saat itu musim dingin-tidak masuk ke rumah.

Kertas merah sebagai lambang uang, merupakan alat untuk menjaga kesejahteraan keluarga. Sesudah pintu ditutup, lalu dipasang perapian dengan tujuan mendapat hawa hangat selain mengusir hawa dingin.

Acara berikutnya, makan malam bersama dengan hidangan wajib berupa ikan. Di Jakarta, umum disajikan ikan bandeng. Kebiasaan ini mendapat pengaruh dari daerah Tiongkok selatan. Di Tiongkok utara ada kebiasaan makan jiaozi (penganan berbentuk pempek kapal selam mini, terbuat dari tepung khusus berisi daging dan sayur). Mengapa makan ikan, bukan binatang lainnya? Alasannya, ada pepatah berbunyi nian nian you yu "setiap tahun ada sisa". Kata yu yang berarti "sisa" berbunyi sama dengan kata yu yang berarti "ikan". Kesamaan bunyi itulah yang menyebabkan mengapa ikan menjadi hidangan wajib di malam tahun baru. Dengan makan ikan, berarti dalam segala hal ada sisa. Tentu saja yang dimaksud adalah kelebihan rezeki. Makanan wajib lainnya, kue keranjang yang disebut nian gao. Kata gao "kue" berbunyi sama dengan gao yang bermakna "tinggi". Dengan makan kue keranjang, diharapkan rezeki seseorang setiap tahun bertambah tinggi. Buah jeruk menjadi lambang keberuntungan karena lafal kata jeruk dalam bahasa Mandarin-juzi-mirip ji yang berarti "keberuntungan".

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Saat makan malam itu, di Tiongkok ada kebiasaan memberi angpao kepada anak kecil. Kata angpao berasal dari bahasa Hokkian. Angpao atau hongbao dalam bahasa mandarin bermakna "bungkusan merah", tidak mengacu uang yang khusus diberikan pada tahun baru. Nama uang pemberian khusus di tahun baru disebut yasui qian, bermakna "uang penutup tahun".

Selesai makan malam, seluruh anggota keluarga bercengkerama, main catur semalam suntuk sambil bermain petasan. Menjelang tengah malam petasan yang dibunyikan semakin banyak dan besar. Pada zaman dulu digunakan juga meriam buluh untuk memperoleh suara dentuman lebih keras lagi. Tujuannya, untuk mengusir setan dan hantu. Malam itu malam terakhir musim dingin yang berasosiasi dengan Yin yang menimbulkan hawa dingin, gelap tanpa sinar bulan sehingga banyak setan berkeliaran.

Keesokan harinya merupakan hari pertama tahun baru, sekaligus menandai dimulainya musim semi. Musim semi berasosiasi dengan Yang yang menimbulkan hawa hangat, tanda-tanda kehidupan dimulai lagi, seperti bunga mulai bermekaran. Malam itu merupakan malam untuk mengucapkan selamat tinggal pada tahun yang sudah dilalui dan menyambut tahun baru yang akan dijalani dengan penuh harapan.
Hermina Sutami Pengajar Program Studi Cina Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

MUI Izinkan Imlek di Masjid

YOGYAKARTA, (PR).- Warga Tionghoa yang menganut agama Islam atau Muslim di Yogyakarta, mungkin tidak akan mengira akan dapat melaksanakan perayaan Imlek di masjid. Keinginan tersebut tampaknya bakal terwujud setelah pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) Yogyakarta memberikan izin kepada Parsatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) setempat untuk melakukan kegiatan tersebut di Masjid Suhada, Kota Baru.
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0203/06/0505.htm

Boleh, Imlekan di Masjid

JOGJAKARTA– Barangkali, ini merupakan fatwa pertama, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) memperbolehkan perayaan tahun baru China 2554 (Imlek) di dalam masjid. Rekomendasi itu dikeluarkan setelah MUI mempelajari dan mencari sejumlah masukan dari berbagai buku mengenai Imlek. Ternyata, perayaan Imlek tidak berkaiatan dengan ritual keagamaan.
http://ldnu.org/berita/arsip/000933.shtml

Warga Tionghoa di Yogya Rayakan Imlek di Masjid dan Gereja
detikcom - Jakarta, Warga Yogyakarta keturunan Cina yang beragama Islam dan Nasrani di akan turun merayakan Tahun Baru Tionghoa Imlek 2554 di masjid dan gereja. Jadi, perayaan tidak cuma ada di klenteng.
http://www.indonesiamedia.com/2003/03/berta-0303-imlekmesjid.htm

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Hikayat Imlek, Dulu dan Sekarang

detikHot - Jakarta,Tiga atau empat tahun yang lalu, pemandangan seperti ini tidak mungkin ada: Mal-mal di Jakarta berhias lampion-lampion, pita-pita dan berbagai hiasan dengan nuansa serba merah. Tulisan China di sana-sini. Orang-orang saling mengucap selamat dalam bahasa yang aneh, Gong Xi Fat Cai. Semoga sejahtera. Inilah yang pada Hari Raya Imlek atau tahun baru Cina sejak rezim Soeharto berlalu.

Tahun ini, Imlek jatuh pada Sabtu (1/2/2003) besok. Untuk pertama kalinya, Imlek akan dirayakan dalam suasana hari libur nasional, setelah tahun lalu pemerintah menetapkannya sebagai hari libur fakultatif. Artinya, hanya yang merayakannya saja yang mendapatkan libur. Perayaan Imlek secara besar-besaran di bawah “pengakuan resmi” dari pemerintah semacam ini terjadi sejak Pemerintahan Presiden Gus Dur.

Sejak itu, kemeriahan perayaan Imlek sejajar dengan Lebaran dan Natal. Yang paling mencolok, tentu, perayaan secara fisik yang tercermin dalam kesibukan pusat-pusat perbelanjaan dan institusi-institusi hiburan seperti televisi dan industri pertunjukan. Seperti halnya Lebaran dan Natal, Imlek sekarang sudah punya “daya jual” untuk menjadi tema diskon di mal-mal dan supermarket. Stasiun televisi pun berlomba-lomba menyajikan acara khusus menyambut Imlek. RCTI misalnya, terlihat paling bersemangat.

Semangat yang sama juga terpancar pada masyarakat keturunan Tionghoa sendiri, yang merayakan “kemenangan politik” ini dengan penuh suka cita. Ada laporan menarik dari Yogyakarta. Warga kota pelajar itu, khususnya kalangan keturunan Tionghoa yang beragama Islam dan Nasrani, merayakan Imlek atau Tahun Baru Cina 2554 di masjid dan gereja.

Kalau melacak sejarahnya, Imlek memang bukan perayaan keagamaan tertentu, melainkan upacara tradisional masyarakat Tiongkok. Di Cina sendiri, Imlek diperingati bersama oleh warga yang beragama Konghucu, Budha, Hindu, Islam, Katolik dan Kristen. Awalnya dahulu, Imlek atau Sin Tjia merupakan sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani yang biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama awal tahun baru.

Perayaan itu juga berkaitan dengan pesta menyambut musim semi, yang dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama. Acaranya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh. Tujuannya, tak lain sebagai syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, di samping untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Karena perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani, maka segala bentuk persembahannya berupa berbagai jenis makanan. Idealnya, pada setiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Di Cina, hidangan yang wajib adalah mie panjang umur (siu mi) dan arak. Di Indonesia, dipilih hidangan yang berasosiasi pada makna “kemakmuran”, “panjang umur”, “keselamatan”, atau “kebahagiaan” dan merupakan hidangan kesukaan para leluhur.

Kue-kue yang dihidangkan biasanya lebih manis daripada biasanya, sebagai simbol harapan akan kehidupan yang lebih manis di tahun baru. Dihidangkan pula kue lapis sebagai perlambang rejeki yang berlapis-lapis, kue mangkok dan kue keranjang. Bubur sangat dihindari sebagai hidangan di hari ini karena dianggap melambangkan kemiskinan.

Kedua belas hidangan itu lalu disusun di meja sembahyang yang bagian depannya digantungi dengan kain khusus yang biasanya bergambar naga berwarna merah. Pemilik rumah lalu berdoa memanggil para leluhurnya untuk menyantap hidangan yang disuguhkan. Di malam tahun baru orang-orang biasanya bersantap di rumah atau di restoran. Setelah selesai makan malam mereka bergadang semalam suntuk dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar agar rejeki bisa masuk ke rumah dengan leluasa.

Tujuh hari sesudah Imlek dilakukan persembahyangan kepada Sang Pencipta. Dan, lima belas hari sesudah Imlek dilakukan sebuah perayaan yang disebut dengan Cap Go Meh. Masyarakat keturunan Cina di Semarang merayakannya dengan menyuguhkan lontong Cap Go Meh yang terdiri dari lontong, opor ayam, lodeh terung, telur pindang, sate abing, dan sambal docang. Sementara di Jakarta, menunya adalah lontong, sayur godog, telur pindang, dan bubuk kedelai. Gong Xi Fat Cai.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI


Makna Perayaan Tahun Baru Imlek

Oleh: Ks Sofyan Jimmy Yosadi - mahasiswa Fakultas Hukum UKIT

Perayaan Tahun Baru Imlek (Sienci) atau Tahun Baru Khonghucu 1 Cia Gwee 2550 menurut penanggalan masehi jatuh pada tanggal 16 Februari 1999. Bagi umat Khonghucu, Tahun Baru Imlek dirayakan dengan melaksanakan sembahyang sujud syukur ke hadirat Thian, Tuhan YME yang telah melimpahkan curahan berkat dan rahmat-Nya sepanjang tahun yang telah berlalu hingga dapat memasuki tahun yang baru. Perayaan ini mengandung makna agama yang mendalam karena diikuti berbagai upacara keagamaan/ritual yang dilaksanakan sebelum dan sesudah Tahun Bru Imlek.

Bagi orang Khonghucu Indonesia melakukan sembahyang sujud syukur pada Tahun Baru Imlek merupakan kewajiban pelaksanaan ibadah sesuai keyakinan agamanya. Umat Khonghucu tidak menyatakan perayaan Tahun Baru Imlek sebagai Thun Baru Cina. Agama Khinghucu da di dunia sudah ribuan tahun sebelum negara Cina diproklamirkan. Oleh karena itu hrus dibedakan dengan orang yang kebetulan etnis Cina lalu ikut merayakannya, maka sesuatu hal yang keliru dan salah kaprah kalau persujudan dan puji syukur kepada Tuhan pada hari itu dikaitkan dengan budaya, adat dan tradisi Cina.

Janganlah menanggapi agama Khonghucu dengan menanggapi secra tradisi Cina. Dlam perkembangn suatu ajaran agama di mana agama itu lahir di suatu tempat, yang sebelumnya telah memiliki suatu tradisi dan budaya yang spesifik, maka ajaran agama ini turut mempengaruhi tradisi dan budaya setempat dan bukan sebaliknya. Namun disadari, dalam perkembangannya kemudian, agama apapun akan turut terbawa tradisi awal di mana tempat agama itu terlahir. Adalah suatu kebetulan agama Khonghucu lahir di Tiongkok, tetapi agama Lhonghucu tidak membicarakan tentang trdisi Cin namun membicarakan tentang Tuhan, Firman, Iman, Kebijakan, dan sebagainya. Dalam siftnya yang universal dan global, agama Khonghucu di Indonesia, baik dalam Kitab Sucinya, kebaktinnya, ritualnya menggunakan bahasa Indonesia tapi mengangkut hal-hal yang prinsip tentang keimanan tetap memakai bahasa Kitabnya.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Di RRC sendiri, Thun Baru Imlek dirayakan sebagai perayaan musim semi, demikian juga berlainan dengan masyarakat Cina lain yang merayakannya sebagai menyambut tahun "kelinci".

Kehadiran tulisan ini mencoba menjelaskan sepintas kilas tentang makna agama yang terkandung di dalam perayaan Tahun Baru Khongcu/Imlek, dengan maksud agar dapat menambah pengertian bagi umat Khonghucu dan segenap simpatisannya, juga umat beragama lain agar lebih dapat diketahui khalayak masyarakat guna menghindari salah persepsi.

Penanggalan Imlek

Perhitungan penanggalan Imlek semula didasarkan atas peredaran bulan mengelilingi bumi (lunar calender), dan telah dikenal sejak ribuan tahun sebelum masehi. Uniknya perhitungan penanggalan ini juga didasarkan atas peredaran bumi mengelilingi matahari (solar calender), seperti penanggalan masehi. Maka terjadi penyesuaian yaitu melalui mekanisme yang dikenal sebagai 'Lun Gwee' (bulan ulang) atau penyisipan 2 (dua) bulan tambahan setiap 5 (lima) tahun. Dengan adanya penyesuaian ini maka lebih tepat disebut penanggalan Imyanglek (sistem lunisolar).

Dalam sejarah tercatat, penanggalan Imlek dimulai sejak tahun 2637 SM, sewaktu Kaisar Oet Tee / Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya. Penanggalan Imlek sebutan asalnya adalah He Lek, yakni Penanggalan Dinasti Ke / Hsia (2205-1766 SM), di mana pertama kali mengenalkan penanggalan berdasarkan solar, dan penetapan tahun barunya bertepatan dengan tibanya musim semi. Dinasti Sing/Ien (1766-1122 SM) menetapkan tahun barunya mengikuti Dinasti He, yakni akhir musin dingin. Nabi Khongcu yang hidup pada zaman Dinasti Cou / Chin (1122-255 SM) merasakan bahwa sistem penanggalan yang dipakai Dinasti Ciu kurang mempunyai nilai praktis, yaitu karena tahun baru jtuh jatuh pada hari Tangcik (Tung Ze).Saat itu hari tengah musim dingin maka pendapat Nbi Khongcu, penanggalan Dinasti He yang paling tepat, hal itu dapat diketahui dari Sabda Nabi Khongcu : "Pakailah penanggalan Dinasti He ..." Kitab Sabda Suci (Lun Gi / Lun Yu) jilid XV : 11.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Adapun yang menjadi dasar pertimbangan Nabi Khongcu adalah kesejahateraan umat manusia. Pada kehidupan zaman dahulu, penetapan saat tahun baru memegang peranan yang amat penting, karena penetapan tersebut menjadi pedoman bagi semua orang untuk mempersiapkan segala pekerjaan untuk tahun yang berjalan, terutama para petani yang akan mulai bercocok tanam pada saat akhir musim dingin dan memasuki musim semi. Penanggalan ini sangat cocok bagi petani karena penanggalan tersebut perhitungan musim, peredaran matahari, serta uraian penjelasan mengenai iklim, maka penanggalan tersebut jadi populer dan disebut juga Long Lek (penanggalan petani).

Kaisar Han Bu Tee (140-86 SM) dari Dinasti Han (206 SM-220) menetapkan agama Khonghucu sebagai agama negara, dan penanggalan yang dianjurkan oleh Nabi Khongcu, yaitu He Lek resmi dipakai semua orang, baik masyarakat maupun pemerintahan dan tahun pertamanya dihitung dari tahun kelahiran Nabi Khongcu, yaitu tahun 551 SM, dengan demikian penanggalan Imlek dan penanggalan masehi berselisih 551 tahun. Oleh karenanya jika tahun masehi saat ini 1999, maka tahun Imleknya menjadi 1999 + 551 = 2550. Karena dihitung sejak Nabi Khongcu lahir maka tahun Imlek lazim disebut sebagai Khongculek.

Sistem penanggalan Imlek ini digunakan juga dalam kehidupan keagamaan di antara umatnya di Jepang, Korea, Vietnm, Taiwan, Burma, dan negara lainnya meskipun dengan nama yang diucapkan berbeda-beda tetapi merayakan hari tahun barunya sama. Bahkan di lingkungan agama Budha Sekte Mahayana yang berkembang di kawasan Asia Timur juga menggunakan penanggalan Imlek guna menentukan hari-hari suci keagamaannya.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Tahun Baru Khongcu (Imlek) selalu jatuh pada bulan baru (Chee It / Chu Yi) setelah memasuki Tai Han (T Kan) 21 Januari (Great Cold - saat terdingin), sampai dengan tibanya Hi Swi (Yi Suei) 19 Feebruari (spring showers - hujan musim semi). Tapi masih dapat ditolerir paling awal 3 hari sebelumnya seperti tahun 1969 jatuh pada hari Sabtu, 18 Januari 1969.

Adanya informasi dan berbagai tanggapan bahwa Tahun Baru Imlek / Khongculek 2550 dimajukan menjadi tanggal 16 / 17 Januari 1999, kemungkinan adalah suatu upaya untuk mempercepat berakhirnya "tahun harimau" yaitu dianggap penuh berbagai krisis. Tapi perlu ditegaskan bahwa Tahun Baru Imlek Khongculek 2550 yang benar adalah 16 Februari 1999.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Makna Religius

Pergantian tahun yang baru merupakan suatu penyesuaian terhadap gejala alam semesta, yang dilambangkan berkah-Nya melimpah bagi semua mahluk hidup. Di dalam kehidupan manusia, tahun baru merupakan suatu masa tentang keharmonisan dalam tata kehidupan, semua umat bergembira menyambut kehadiran tahun yang baru ini dengan penuh harap. Sesungguhny pa bedanya tahun kemarin dengan tahun baru, malam kemarin dengan malam tahun baru? Mengapakah pergantian tahun disertai dengan makna yang sarat, sehingga sanggup menghimpun manusia untuk merayakannya?

Pergantian tahun merupakan suatu momentum untuk menyadari secara mendalam, bahwa kita terikat oleh waktu. Bersamaan dengan itu gejala perubahan alam dalam masa pergntian tahun, manusia diingtkan bahwa ia hidup dalam ruang dan waktu tertentu. Keterikatan perjalanan hidup terhadap ruang dan waktu menyadarkan kita sebagai makhluk yang kecil dan lemah di hadapan Tuhan, kekuasaan yang mengatur alam semesta ini. Sekurang-kurangnya manusia mengucapkan syukur, berterima kasih karena masih diberi kesempatan menjalani kehidupan dalam ruang dan waktu ini. Karunia Thian, Tuhan YME berlimpah dicurahkan kepada umat manusia. Oleh karena itu sudah sewajarnya manusia sadar untuk berusaha menengadah mengucapkan puji syukur. Pada saat ini kita berusaha memperbaiki diri dan mengakhiri semua permusuhan, kebencian, dan kejahatan.
"Sungguh Maha Besarlah Kebijakan Kwi Sien (Tuhan dalam sifat-Nya Yang Maha Rokh). Dilihat tiada tampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia. Demikianlah menjadikan umat manusia di dunia berpuasa membersihkan hati dan mengenakan pakaian lengkap sujud bersembahyang kepada-Nya. Sungguh Maha Besarlah Dia, sehingga terasakan di atas dan di kanan kiri kita. Adapun kenyataan Tuhan Yang Maha Rokh itu tidak boleh diperkirakan, lebih-lebih tidak dapat ditetapkan. Maka sungguh jelas sifat-Nya yang halus itu, sehingga tidak dapat disembunyikan dari iman kita, demikianlah Dia." Kitab Tengah Sempurna (Tiong Yong / Chung Yung) Bab XV.

Pada hari pertama tahun baru Imlek semua umat Khonghucu bertingkah laku dengan cara yang berlainan dari biasanya. Rumah dibersihkan, orang menghias diri dengan pakaian yang baru, menyediakan makanan yang enak. Kesemuanya itu, seluruh kehidupan jasmani rohaninya diliputi rasa gembira dan bahagia, yang dibarengi dengan rasa dan suasana cinta kasih kepada sesama manusia, rasa syukur kepada Tuhan YME.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Pada Tahun Baru Khongcu/Imlek ini, umat Khonghucu melaksanakan sembahyang sujud ke hadirat Tuhan sesuai dengan apa yang diperintahkan agama, sebagaimana yang disabdakan Nabi Khongcu : "Pada permulaan tahun (Liep Chun), jadikanlah sebagai hari agung untuk bersembahyang besar ke hadirat Tuhan." Kitab Lee Ki / Li Chi bagian Gwat Ling.

Berkaitan dengan perayaan Imlek pada tahun 1999 ini, maka Badan Pengurus MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) mengeluarkan seruan kepada segenap umat Khonghucu dan segenap simpatisan di seluruh tanah air, agar perayaan tersebut hendaknya dilakukan secara sederhana. Karena hakekat tahun baru bukan untuk berhura-hura atau berpesta pora, melainkan untuk merenung, berkontemplasi, bersujud syukur ke hadirat Tuhan, 'sungkem' kepada orang tua, melakukan introspeksi dan membina diri, serta memperbaiki tali silaturahmi dan tali persaudaraan sesama manusia. Perayaan Tahun Baru Imlek di kala keadaan krisis seperti saat ini, akan lebih tepat bila digunakan untuk lebih meningkatkan kepedulian sosial kita terhadap lingkungan. Tindakan berpesta pora pada saat krisis, tidak saja kurang etis namun juga bisa menambah berat beban perekonomian secara makro karena bisa memancing kenaikan harga.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Rangkaian Kegiatan Keagamaan

Perayaan Tahun Baru Imlek sudah mulai dipersiapkan ritual keagamaannya sejak 7 hari menjelang tahun baru dengan melaksanakan sembahyang menghantar Malaikat Dapur (Co Kun Kong), dan bagi umat Khonghucu yang penghidupannya sudah mapan saat ini berkesempatan untuk memberi santunan kepada mereka yang berkekurangan. Maka hari itu disebut juga sebagai Hari Persaudaraan (Ji Si Siang Ang).

Selanjutnya sehari sebelum tahun baru, sembahyang penutup tahun sekaligus menyambut tibanya tahun baru yang dilakukan persujudan rasa syukur ke hadirat Tuhan yang berkenan melindungi dan memberkahi sepanjang tahun yang akan ditinggalkan dan memohon agar tahun yang akan dimasuki dapat menghantar kepada kondisi kehidupan yang lebih baik daripadaa tahun lalu. Dalam sembahyang ini disampaikan pula hormat kepada orang tua yang sudah meninggal dunia juga kepada leluhur sebagai perwujudan bakti dan rasa terima kasih atas asuhannya. Hari itu juga biasanya para keluarga memperindah rumah, membuat kue, dan melaksanakan perayaan ini secara sederhana, tulus dan penuh hikmah tanpa kesan berlebihan.

Pada saat memasuki detik-detik tahun baru, sembahyang dilaksanakan lagi dengan penuh hikmat, khusuk dan gembira kemudian saling memberi hormat dan mendoakan semoga panjang umut, murah rejeki dan sehat sejahtera sambil memohon ampunan kepada orang tua dengan melakukan sungkem/hormat (Kui Ping Sien). Sedangkan kepada saudara saling memaafkan lalu saling mengunjungi sanak keluarga dan sehabat untuk menyampaikan hormat dan saling mendoakan diiringi maaf memaafkan.

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI

Hari keempat di tahun yang baru dilakukan sembahyang untuk menyambut turunnya Malaikat Dapur (Co Kun Kong). Dapur merupakan salah satu bagian penting dari sebuah rumah tangga, karena di tempat ini semua kegiatan mengolah makanan untuk santapan keluarga dilakukan. Oleh karenanya dapur perlu dipelihara dengan baik, selain perlu selalu dijaga kebersihannya.

Kemudian hari kedelapan menjelang hari kesembilan (dilaksanakan pada Si/jam pertama), sembahyang beesar kepada Tuhan (King Thi Kong). Sesuai dengan amanat suci dalam Kitab Lee Ki (kitab kesusilaan), dilaksanakan dengan mempersiapkan diri secara khusus berpantang makanan (berpuasa/vegetaris) sejak hari ketiga sampai berakhirnya sembahyang King Thi Kong. Sembahyang ini merupakan sembahyang besar dengan peyerahan diri secara total kepada Tuhan yang bermakna betapa manusia demikian kecilnya di hadapan-Nya.

Pada hari ketigabelas, dilaksanakan upacara suci memperingati kemuliaan Kwan Kong (Dewa yang melambangkan sikap Ksatria, Setia, Berani, Bijaksana, dan taat pada agama).

Pada hari kelimabelas dilaksanakan upacara Purnama Raya (Cap Go Meh/Goan Siau) hari yang penuh makna, dan sarat dengan upacara keagamaan dalam istilah masyarakat Manado adalah "pesiar Toapekong".



Merayakan Tahun Baru Imlek : Boleh atau Tidak?

Ada apa dan bagaimana sebenarnya hingga tahun baru Imlek senantiasa mendapat tanggapan negatif serta mengundang anggapan bahwa menghambat pembauran, mengancam persatuan dan kesatuan bangsa?

Z U L V A . com - graphics and comment - friendster layout
ZULVA.com - GONG-XI-FAT-CHOI